Margin dan Penjualan Feronikel Topang Kinerja ANTM, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbaikan margin keuntungan dan peningkatan penjualan feronikel menjadi katalis positif bagi prospek kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Meski demikian, emiten tambang pelat merah ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi penjualan emas dan harga bijih nikel yang berpotensi menekan profitabilitas dalam jangka menengah.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey mengatakan, ANTM membukukan laba bersih sebesar Rp 8,84 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perolehan tersebut meningkat 48% secara tahunan (YoY), setara 81,3% dari proyeksi laba bersih untuk tahun ini.

Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh perbaikan margin keuntungan. Hingga September 2026, margin laba kotor ANTM meningkat menjadi 17,6% dari 15,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin laba bersih juga melebar menjadi 10% dari 8,3%.


Andhika bilang, harga jual emas ANTM yang berada di atas harga spot global turut membantu menjaga profitabilitas segmen tersebut. Harga jual rata-rata emas ANTM sepanjang tahun berjalan mencapai US$ 4.715 per ons troi. Bahkan, premi tersebut melebar menjadi 12% per 30 Oktober 2026.

Baca Juga: Avian Brands (AVIA) Tebar Dividen Interim Rp 709 Miliar, Potensi Yield Capai 4,14%

“Selisih harga jual emas membantu menopang profitabilitas segmen emas ANTM. Hal ini terlihat dari margin laba bersih segmen emas yang relatif stabil sebesar 4,3% pada kuartal III-2026, dibandingkan 4,4% pada kuartal sebelumnya, meskipun harga emas global mengalami koreksi,” tulis Andhika dalam risetnya, Senin (2/11/2026).

Selain emas, peningkatan penjualan feronikel turut menjadi pendorong revisi naik proyeksi laba ANTM. Andhika menaikkan asumsi volume penjualan feronikel pada 2026 sebesar 65,2% menjadi 18.500 ton. Asumsi harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) feronikel juga dinaikkan 12,5% menjadi US$ 13.527 per ton.

Meski demikian, Andhika mengingatkan bahwa pelemahan penjualan emas dan harga bijih nikel masih menjadi risiko bagi kinerja perusahaan. Harga bijih nikel ANTM telah kehilangan premi terhadap Harga Patokan Mineral (HPM) dan kini diperdagangkan dengan diskon. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga jual terealisasi serta keekonomian penjualan bijih nikel.

Untuk bisnis emas, asumsi volume penjualan ANTM pada 2026 dipangkas sebesar 7,9% menjadi 35 ton. Asumsi ASP emas juga diturunkan 2,2% menjadi US$ 4.500 per ons troi, seiring potensi tekanan volume penjualan di tengah harga emas yang masih tinggi.

Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan memiliki pandangan lebih konservatif terhadap prospek ANTM dalam jangka menengah. Meski kinerja sembilan bulan pertama 2026 melampaui ekspektasi Maybank dan konsensus pasar, momentum kinerja perusahaan pada kuartal III-2026 melemah secara kuartalan.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh penjualan emas yang turun 26% secara kuartalan menjadi 7,1 ton. Di sisi lain, penjualan bijih nikel meningkat 18% menjadi 3,96 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualan feronikel naik 33% menjadi 6.367 ton.

Hasan bilang, peningkatan volume penjualan bijih nikel berpotensi menjadi penopang kinerja ANTM hingga tahun depan.

“Kami tetap optimistis terhadap segmen bijih nikel ANTM, yang seharusnya menopang laba hingga kuartal IV-2026 dan 2027,” katanya.

Tantangan Struktural dan Peluang Perbaikan

Baca Juga: Kinerja Emiten Semen Membaik, Ini Saham Pilihan Analis

Analis UBS Sekuritas Indonesia Igor Putra juga menyoroti tantangan struktural ANTM, terutama pada bisnis bijih nikel. Menurutnya, posisi ANTM dalam rantai pasok dari tambang hingga smelter masih kurang kuat karena terbatasnya pembeli bijih nikel yang terintegrasi dengan perusahaan serta lokasi pelanggan yang relatif jauh.

“Kami sebelumnya telah menyoroti lemahnya konektivitas ANTM dari tambang hingga smelter karena terbatasnya pembeli bijih nikel yang terintegrasi dan lokasi pelanggan yang lebih jauh. Fleksibilitas yang lebih besar untuk menjual bijih nikel di bawah harga acuan dapat memperbaiki posisi ANTM. Tanpa fleksibilitas tersebut, penjualan bijih nikel perusahaan berisiko terganggu,” ujar Igor.

Selain bisnis nikel, Igor menyoroti kelebihan pasokan emas di pasar domestik yang telah membatasi margin ANTM selama dua kuartal terakhir dan berpotensi menjadi persoalan struktural. Meski demikian, ia melihat peluang perbaikan kinerja pada kuartal IV-2026, salah satunya didukung oleh penurunan persediaan emas perusahaan menjadi Rp 10 triliun pada kuartal III-2026, dari posisi tertinggi Rp 14 triliun pada kuartal I-2026.

“Penurunan persediaan emas tersebut seharusnya memungkinkan ANTM untuk lebih berfokus pada optimalisasi margin bisnis emas pada kuartal-kuartal berikutnya. Kami juga memperkirakan pengurangan atau penghapusan bea keluar emas dapat membantu mengurangi kelebihan pasokan di pasar domestik,” katanya.

Tambahan kuota produksi bijih nikel atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk entitas asosiasi ANTM, Weda Bay Nickel (WBN), juga berpotensi meningkatkan penjualan bijih nikel pada kuartal IV-2026. Selain itu, fleksibilitas perusahaan untuk menjual bijih nikel kepada pembeli dengan lokasi lebih jauh mulai membaik pada awal Oktober 2026.

Proyeksi Kinerja dan Rekomendasi Saham ANTM

Dari sisi kinerja keuangan, Andhika memproyeksikan pendapatan ANTM mencapai Rp 115,55 triliun pada 2026. Angka tersebut meningkat 36,5% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 84,64 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih ANTM diperkirakan mencapai Rp 10,88 triliun pada 2026, meningkat 50,9% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 7,21 triliun.

Pada 2027, pendapatan ANTM diproyeksikan kembali meningkat 4,9% menjadi Rp 121,18 triliun. Sementara itu, laba bersih diperkirakan tumbuh 3,1% menjadi Rp 11,21 triliun. Untuk 2028, BRI Danareksa memperkirakan pendapatan ANTM relatif stagnan di kisaran Rp 121,17 triliun, sedangkan laba bersih diproyeksikan meningkat tipis 1,9% menjadi Rp 11,43 triliun.

Dari sisi rekomendasi saham, Andhika mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan menaikkan target harga menjadi Rp 4.500 per saham. Target tersebut menggunakan valuasi 9,6 kali price to earnings ratio (P/E) berdasarkan proyeksi laba 2027.

Hasan juga mempertahankan rekomendasi buy saham ANTM dengan target harga Rp 3.900 per saham. Namun, target tersebut lebih rendah dari proyeksi sebelumnya seiring revisi turun estimasi laba ANTM pada 2027 dan 2028.

Sementara itu, Igor turut mempertahankan rekomendasi buy saham ANTM dengan target harga Rp 3.950 per saham. UBS memangkas target harga dari sebelumnya Rp 4.350 per saham setelah memperbarui asumsi tingkat imbal hasil bebas risiko berdasarkan kenaikan yield obligasi pemerintah dari 7% menjadi 7,5%. 

Baca Juga: OJK Rajin Jatuhkan Sanksi, Mengapa Kepercayaan Investor Pasar Modal Belum Pulih?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News