KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja empat bank besar Indonesia pada kuartal II 2026 masih sejalan dengan ekspektasi. Namun analis menilai tekanan likuiditas mulai terlihat dari penyusutan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset 2 September 2026 mengatakan, laba bersih agregat empat bank besar atau
big four banks mencapai Rp 101,6 triliun pada kuartal II 2026. Angka tersebut tumbuh 13% secara tahunan dan setara dengan 50% dari proyeksi Indo Premier Sekuritas serta 51% dari konsensus. Pertumbuhan laba terutama ditopang oleh PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI), yang masing-masing membukukan pertumbuhan laba 24% dan 17% secara
year on year (yoy).
Baca Juga: Ciputra Life: Pendapatan Tetap Punya Peluang Menarik dalam Mengalokasikan Investasi Dari sisi laba operasional sebelum pencadangan atau
pre-provision operating profit (PPOP), pertumbuhan agregat mencapai 12% yoy. BMRI mencatat pertumbuhan PPOP tertinggi sebesar 20% yoy, disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI) sebesar 14% yoy. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau
net interest income (NII) cukup beragam. BBNI dan BBRI mencatat pertumbuhan NII dua digit masing-masing 10% dan 14% yoy. BMRI tumbuh 8% yoy, sedangkan NII PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) cenderung datar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Secara agregat, laba bersih empat bank besar mencapai Rp101,6 triliun pada kuartal II-2026, tumbuh 13% secara tahunan. Capaian ini sejalan dengan ekspektasi, yakni telah merealisasikan sekitar 50% dari proyeksi kami dan 51% dari konsensus. Pertumbuhan terutama ditopang oleh BMRI yang naik 24% yoy dan BBRI yang tumbuh 17% yoy,” tulis Jovent Di tengah pertumbuhan tersebut, beban operasional empat bank besar relatif tidak berubah secara tahunan. Namun, biaya pencadangan meningkat 9% yoy, terutama karena BBNI dan BBRI menaikkan pencadangan masing-masing 42% dan 10% yoy. Menurut Jovent, kenaikan pencadangan tersebut mencerminkan sikap bank yang lebih berhati-hati terhadap kualitas aset. Sebaliknya, BMRI dan BBCA justru mencatat penurunan pencadangan masing-masing 12% dan 1% yoy.
Likuiditas ketat mulai tekan NIM
Tekanan utama terlihat pada NIM. Seluruh bank besar mengalami penyusutan NIM secara kuartalan pada kuartal II 2026, kecuali BBNI yang relatif stabil.
Baca Juga: AAJI: Kanal Bancassurance Jadi Penopang Utama Premi Asuransi Jiwa di Semester I-2026 BMRI mencatat penurunan NIM paling besar, yakni 33 basis poin (basis points/bps) secara kuartalan. Selanjutnya, NIM BBRI turun 20 bps dan BBCA turun 10 bps. Jovent menjelaskan, tekanan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan imbal hasil kredit sebesar sekitar 10–20 bps secara kuartalan di seluruh bank besar. Di saat yang sama, biaya dana atau
cost of fund (CoF) justru meningkat. BBNI mencatat kenaikan CoF terbesar sebesar 14 bps secara kuartalan, diikuti BMRI dan BBRI masing-masing 12 bps serta BBCA 7 bps. "Kondisi tersebut mencerminkan biaya pendanaan yang meningkat lebih cepat dibandingkan imbal hasil kredit selama periode likuiditas yang ketat," jelas Jovent. Tekanan tersebut bahkan mendorong BMRI dan BBNI memangkas panduan NIM untuk tahun buku 2026. BMRI menurunkan target NIM dari 4,6%–4,8% menjadi 4,5%–4,7%. Sementara itu, BBNI memangkas panduan dari 3,5%–3,8% menjadi 3,3%–3,5%. Adapun BBRI dan BBCA masih mempertahankan proyeksi NIM mereka.
Kredit tetap tumbuh dua digit
Meski margin tertekan, pertumbuhan kredit empat bank besar masih kuat. Secara agregat, kredit tumbuh 12% yoy atau 4% secara kuartalan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bank-bank BUMN dengan pertumbuhan kredit sekitar 11%–16% yoy, yang salah satunya didorong oleh penyaluran kredit Agrinas. Sementara itu, pertumbuhan kredit BBCA relatif lebih lambat, yakni 8% yoy.
Baca Juga: Great Eastern Life Indonesia Andalkan SBN, Porsinya Capai 76,92% Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11% yoy. Namun, pertumbuhan masih lebih banyak ditopang deposito berjangka atau
time deposit (TD) yang meningkat 17% yoy. Sementara itu, dana murah atau CASA hanya tumbuh 9% yoy. “Pertumbuhan pendanaan masih didominasi oleh deposito berjangka,” kata Jovent.
Kualitas aset membaik
Di tengah ekspansi kredit dan tekanan likuiditas, kualitas aset empat bank besar masih relatif stabil. Bahkan, rasio
loan at risk (LAR) menunjukkan perbaikan secara kuartalan di seluruh bank. BBRI mencatat perbaikan LAR terbesar sebesar 52 bps, disusul BBNI 50 bps, BBCA 20 bps, dan BMRI 19 bps. Untuk rasio kredit bermasalah atau
non-performing loan (NPL), hanya BBCA yang mencatat kenaikan, yakni 10 bps secara kuartalan. Kenaikan tersebut disebabkan oleh penurunan kualitas kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (SME) serta nasabah komersial. Sementara itu, NPL BBRI turun 11 bps secara kuartalan, sedangkan NPL BMRI dan BBNI relatif tidak berubah. Jovent menambahkan, sebagian besar bank masih menerapkan sikap hati-hati dalam penyaluran kredit konsumer. Meski demikian,
cost of credit (CoC) seluruh bank masih sesuai dengan panduan masing-masing dan belum ada perubahan terhadap target CoC.
Indo Premier tetap overweight sektor bank
Dengan mempertimbangkan valuasi dan sentimen yang mulai membaik, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi
overweight (OW) terhadap sektor perbankan. Jovent menilai valuasi saham bank saat ini masih menarik. Sektor perbankan diperdagangkan pada valuasi sekitar 1,5 kali
price to book value (P/B) 2026 dan 8,4 kali
price to earnings ratio (P/E), lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali dan 14,3 kali.
Baca Juga: Klaim Kesehatan Industri Asuransi Jiwa Naik Dobel Digit pada Semester I-2026 Untuk pilihan utama, Indo Premier Sekuritas mempertahankan BBRI dan BBCA sebagai top picks. Meski demikian, investor perlu mencermati risiko likuiditas yang semakin ketat dan berpotensi berlanjut pada semester II 2026. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap NIM sekaligus menghambat pertumbuhan kredit perbankan. Adapun pergerakan saham bank besar hingga Kamis 3 September 2026 hingga pukul 10.40 WIB bergerak berbeda. Saham BMRI naik 1,15% di level Rp 4.410, BBRI naik 0,59% di Rp 3.410, BBNI naik 1,79% di Rp 3.970 per saham. Sedangkan saham BBCA turun 0,37% di Rp 6.650. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News