Margin NCKL Terjaga Berkat HPAL, Cermati Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efisiensi biaya pemrosesan High Pressure Acid Leaching (HPAL) menjadi bantalan utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dalam mengamankan margin laba di tengah fluktuasi harga komoditas dan tantangan pasar.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengungkapkan bahwa kinerja PT Trimegah Bangun Persada Tbk hingga akhir 2026 ditopang  biaya rendah dari teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mampu menjaga margin tetap positif meski harga produk sedang turun.

Selain efisiensi tersebut, kinerja perseroan juga terbantu oleh revisi Harga Patokan Mineral (HPM) bijih kadar rendah yang berlaku sejak 15 September untuk menekan biaya bahan baku limonit, serta pelemahan rupiah yang menguntungkan perolehan pendapatan berdenominasi dolar AS.


Senada, Analis Bahana Sekuritas Jeremy Mikael yang menyebutkan NCKL sebagai pemimpin biaya (cost leader) yang mulai memasuki fase panen.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Batubara: ITMG, AADI, PTBA, dan BUMI

Bahkan di tengah potensi kenaikan biaya sulfur dan penurunan kredit kobalt, margin tunai HPAL milik NCKL diestimasi tetap bertahan tangguh di kisaran 45%. 

Memasuki paruh kedua tahun 2026, kondisi pasar memang menghadirkan rintangan tersendiri bagi emiten tambang dan pemurnian nikel.

"Kuartal III dan IV cenderung lebih lemah daripada semester pertama, tapi tidak runtuh," kata Wafi kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Menurut Wafi, volume penjualan NCKL diproyeksikan masih bisa bertahan di tengah tekanan harga jual, sehingga perolehan laba bersih mungkin menyusut, namun margin operasional tetap terlindungi.

 
NCKL Chart by TradingView

Dinamika pergerakan sahamnya pun dinilai akan lebih merespons fluktuasi harga nikel global dan sentimen pasar dari China dibandingkan sekadar rilis kinerja laba kuartalan.

Sejumlah tantangan yang terus membayangi emiten ini antara lain tingginya persediaan nikel di China yang menekan harga jual produk setengah jadi, serta pelonggaran RKAB yang ibarat pedang bermata dua; harga bijih menjadi lebih murah, namun memicu lonjakan pasokan nikel nasional sehingga menambah tekanan harga.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan Emiten Batubara untuk Hari Ini (5/10)

Beban energi perseroan juga ikut membengkak akibat harga batu bara untuk pembangkit listrik internal yang naik sekitar 11% per bulannya.

Jeremy turut mengonfirmasi bahwa industri pemurnian nikel memang tengah menghadapi siklus yang menantang akibat tren penurunan harga perantara (intermediate prices) yang dipicu oleh tingginya stok di China dan pelonggaran RKAB.   

Di samping persoalan persediaan dan beban operasional, ada pula sentimen geopolitik dan kebijakan domestik yang patut dicermati dengan saksama oleh pelaku pasar.

"Sulfur untuk proses HPAL rentan terganggu oleh konflik Timur Tengah. Dan risiko regulasi hilirisasi di bawah menko baru," pungkas Wafi.

Merespons prospek ketahanan fundamental di atas, Jeremy merekomendasikan buy untuk saham NCKL dengan target harga Rp 1.250 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News