Mari berkenalan dengan malaikat penebar duit



JAKARTA.

Memiliki embel-embel sebagai investor malaikat atau angel investor seakan menjadi gaya hidup baru belakangan ini. Maklum, kemunculan startup di seluruh dunia, terutama di Asia, tengah booming. Nama-nama eksekutif top dan sosialita mendadak banyak yang menambahkan julukan baru "angel investor" sebagai aktivitas mereka belakangan.

Memang, apa, sih, angel investor, itu? Angel investor merujuk pada para pemodal yang aktif mendanai startup dengan uang pribadi mereka. Sesuai namanya, investor malaikat juga lebih banyak menyuntik startup yang masih sangat baru (seed funding). Alhasil, risiko kegagalan pendanaan sangatlah besar. Bisa-bisa modal yang disuntik ke startup yang masih sangat baru itu seperti aksi amal saja saking tinggi risiko gagal. Dus, terlalu sulit berharap dana investasi akan kembali.


Angel investor berbeda dengan modal ventura atau venture capital. Perusahaan modal ventura biasanya didirikan khusus sebagai perusahaan dengan bisnis utama mencari untung dari aksi memodali usaha-usaha rintisan. Dalam dunia startup, modal ventura acapkali masuk ketika startup sudah di tahap pendanaan lebih lanjut.

Di Indonesia, banyak nama-nama eksekutif top yang kini aktif sebagai investor malaikat. Salah satu nama yang mengemuka adalah Shinta Kamdani, Chief Executive Officer (CEO) Sintesa Group. Shinta tergabung dalam Angel Investment Network Indonesia bersama nama-nama lain seperti Izak Jeni, Grace Tahir, Desi Anwar, dan kawan-kawan.

Kepada Tabloid KONTAN, Shinta menuturkan, aksinya menjadi angel investor tak semata mencari untung. “Ada misi sosial juga makanya saya lebih mementingkan pendanaan untuk startup di level sangat awal. Merekalah yang lebih butuh modal namun kadangkala jarang diperhatikan,” terang dia.

Tahun lalu, Shinta mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 200.000 dari kocek pribadi untuk mendanai beragam startup. Umumnya, startup yang dia biayai bergerak di segmen teknologi, makanan dan kosmetika. Shinta tergabung dalam Angel Investment Network Indonesia. Kriteria startup yang dia danai adalah startup di level awal, memiliki prospek menjadi besar dan mempekerjakan karyawan. “Sebagai angel investor, saya tidak Cuma memberikan akses pendanaan. Tapi juga membantu mereka mengakses pasar dan mentoring juga,” terang dia.

Tahun ini, Shinta mengalokasikan sekitar US$ 100.000 untuk pendanaan startup. Dia akan memfokuskan pendanaan untuk startup yang dipegang oleh perempuan dan membutuhkan dukungan. Yang pasti, selama menjadi angel investor, sudah tiga startup yang dia modali berhasil menapaki tingkat dan akhirnya dibeli oleh modal ventura.

Kualifikasi startup

Selain Shinta, ada pula nama Amir Sambodo, mantan CEO Berau Coal. Amir mendirikan PT Teknopreneur Indonesia yang aktif mendanai startup. Sejauh ini kami sudah memodali sekitar 20 perusahaan dengan total pendanaan Rp 10 miliar,” cerita Amir kepada Tabloid KONTAN.

Sumber dana berasal dari duit pribadi Amir dan dana para investor pribadi. Rata-rata startup yang dia danai menerima suntikan modal mulai Rp 60 juta hingga Rp 1 miliar. Tahun ini, Amir bersama Teknopreneur menargetkan menyalurkan modal sekitar Rp 50 miliar. “Target itu dengan mengundang investor strategis,” kata dia.

Laiknya seorang investor, Amir pun memiliki kriteria khusus startup seperti apa yang layak dia danai. Posisi dan kualitas produk menjadi fokus utama pertimbangan mereka sebelum mengucurkan pendanaan ke sebuah usaha. “Usaha yang dikembangkan harus memiliki core business yang kompetitif, lebih bagus lagi yang disruptive dan menjadi terobosan untuk sektor usaha tertentu,” jelas Amir.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News