Mark Zuckerberg Rilis Model AI untuk Temukan Obat Kanker dan Penyakit Imun



KONTAN.CO.ID - Pendiri Facebook dan CEO Meta, Mark Zuckerberg, kini menyiapkan proyek ambisius untuk menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penemuan obat-obatan baru.

Pada Rabu (27/5/2025), yayasan filantropi milik Zuckerberg dan istrinya, Dr. Priscilla Chan, yakni Chan Zuckerberg Biohub, meluncurkan sebuah world model biologi protein

Teknologi ini dirancang untuk mempercepat proses penemuan obat, khususnya untuk kanker dan penyakit autoimun.


Baca Juga: Profil Benedetto Vigna: Sosok di Balik Transformasi Ferrari ke Pasar Mobil Listrik

Apa Itu World Model Biologi Protein?

Mengutip Reuters, protein  adalah mesin molekuler yang menjalankan hampir semua fungsi tubuh manusia, mulai dari membangun jaringan, menghasilkan energi, hingga mengatur sistem imun. 

Namun merancang protein baru yang stabil dan efektif di dalam tubuh selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam ilmu kedokteran.

Biohub menjawab tantangan itu dengan membangun model AI generasi keempat berbasis Evolutionary Scale Modeling (ESM). Sistem ini bekerja dengan cara mempelajari jutaan sekuens protein yang telah dihasilkan oleh proses evolusi selama miliaran tahun.

"Kami telah memverifikasi kemampuan model ini dan memvalidasi banyak prediksinya pada kasus penyakit imun maupun kanker. Ini sangat menjanjikan. Kami berharap setelah model-model ini dirilis, banyak pihak akan segera menggunakannya untuk mengatasi berbagai masalah yang mereka temui di laboratorium," ujar Dr. Priscilla Chan.

Baca Juga: Profil CEO ASML Christophe Fouquet, Veteran Semikonduktor di Tengah Krisis Chip AI

Protein Baru untuk Lawan Kanker

Para peneliti Biohub berhasil menggunakan model AI ini untuk merancang protein binder baru yang menarget sel kanker dan sistem imun.

Seluruh model AI yang dikembangkan bersifat open-source, artinya tersedia secara terbuka bagi komunitas ilmuwan global.

"Kami bermitra dengan sejumlah organisasi yang menyediakan platform analisis biologis, dan model-modelnya akan tersedia di sana. Kami juga memiliki platform biohub.ai yang memungkinkan peneliti menggunakannya di server kami, lengkap dengan kredit komputasi," kata Alex Rives, kepala sains Biohub.

Model ini juga akan dapat diakses melalui platform AWS Bio Discovery dan SandboxAQ.

Baca Juga: Profil James Murdoch, Sosok di Balik Akuisisi Vox dan New York Magazine

Komitmen Rp 124 Triliun untuk Kemanusiaan

Peluncuran ini bukan langkah pertama Zuckerberg di dunia filantropi sains. Chan Zuckerberg Initiative (CZI) didirikan pada 2015. 

Sejak saat itu, keduanya telah menyumbangkan lebih dari 7 miliar dolar AS (sekitar Rp 124 triliun) untuk berbagai program amal, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan.

Zuckerberg dan Chan telah berjanji untuk menghibahkan 99% saham Meta mereka sepanjang hidup mereka, terutama melalui Biohub.

Pada November 2025, CZI menyatukan seluruh upaya riset biomedisnya di bawah satu atap Biohub, termasuk mengakuisisi startup AI-biologi bernama EvolutionaryScale. Perusahaan itu menjadi tulang punggung pengembangan model ESM generasi terbaru ini.

Baca Juga: David Beckham Jadi Atlet Miliarder Pertama di Inggris, Hartanya Rp27 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News