Marketing Sales Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham BSDE



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan penurunan kinerja pada semester I – 2026. Insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hingga pengembangan kawasan diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja BSDE ke depannya. 

BSDE membukukan pendapatan sebesar Rp 4,75 triliun pada semester I – 2026, turun 25,7% secara year on year (YoY). Laba bersih BSDE juga menurun sebesar 53,31% YoY menjadi Rp 601 miliar pada semester I – 2026.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama mengatakan, penurunan pendapatan dan laba bersih BSDE di semester I belum tentu berlanjut dengan tekanan yang sama di semester II. Marketing sales masih cukup terjaga dan sudah mencapai sekitar 51% dari target tahunan, sehingga masih ada ruang bagi pendapatan untuk membaik saat penjualan mulai direalisasikan. Meski begitu, laba perlu lebih diperhatikan karena biaya pendanaan meningkat dan kontribusi dari joint venture bisa cukup fluktuatif. 


Baca Juga: Prabowo Klaim Laba Bersih SMGR Melesat 400% pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya

“Menurut kami, prospek kinerja BSDE di semester II-2026 masih berpeluang membaik dibanding Semester I, didukung marketing sales yang tetap solid, berlanjutnya peluncuran dan serah terima proyek, serta potensi pengakuan pendapatan dari penjualan yang sudah dibukukan sebelumnya,” ujar Kevin Yudha kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). 

Kevin melihat pendapatan berulang seperti sewa juga masih bisa menjadi penopang. Namun, pemulihan laba kemungkinan lebih terbatas karena beban pendanaan meningkat dan pengakuan pendapatan properti tetap bergantung pada timing penyerahan proyek. 

Adapun, sentimen utama yang perlu diperhatikan ke depan adalah arah suku bunga dan KPR, realisasi marketing sales, serta kecepatan serah terima proyek. Insentif seperti PPN DTP juga masih bisa membantu permintaan properti. Dari sisi perusahaan, investor perlu mencermati biaya pendanaan, perkembangan utang, dan pertumbuhan pendapatan berulang. 

“Selama penjualan tetap terjaga dan serah terima membaik, prospek BSDE masih cukup positif,” terang Kevin Yudha.

Nurwachidah, Analis Phintraco Sekuritas mencatat penjualan pemasaran (marketing sales) memberikan kontribusi positif, mencapai Rp 5,12 triliun pada semester I – 2026, mencerminkan pertumbuhan 0,78% YoY dan 1,57% QoQ. Ini mewakili 51% dari target penjualan pemasaran tahun 2026 yang sebesar Rp 10 triliun. Kinerja semester I – 2026 didorong oleh segmen perumahan (48%), diikuti oleh segmen komersial (45%) dan segmen lainnya (7%). 

Secara geografis, BSD City tetap menjadi penggerak utama, menyumbang sekitar 66% dari total dan menyoroti daya tarik kawasan tersebut. Hal ini sejalan dengan strategi penjualan pemasaran tahun 2026, yang memprioritaskan segmen perumahan dengan target 50%, diikuti oleh segmen komersial (35%) dan segmen lainnya (15%).  

“Laba bersih menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara triwulanan, dengan peningkatan 17,53% secara quarter on quarter (QoQ) menjadi Rp 325 miliar pada kuartal II – 2026, dari Rp 276 miliar pada kuartal I – 2025,” ujar Nurwachidah dalam risetnya pada 10 Agustus 2026. 

Baca Juga: Ancaman Sanksi Iran Tekan Pasokan Fisik, Harga Minyak Dibayangi Volatilitas

Nurwachidah mengatakan, prospek BSDE tetap didukung oleh perpanjangan insentif PPN, relaksasi LTV hingga 100%, dan program "Royal Key" yang menawarkan berbagai insentif pembelian. Katalis ini diperkuat oleh pengembangan kawasan terpadu dan kontribusi pendapatan berulang yang terus meningkat, yang meningkatkan diversifikasi pendapatan.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim percaya bahwa laba BSDE yang menurun pada semester I – 2026 didorong oleh waktu pengakuan pendapatan daripada melemahnya permintaan. Pra-penjualan tetap tangguh, didukung oleh proyek unggulannya BSD City. Sebab BSDE saat ini sedang mengembangkan Fase 3 dari BSD City. 

Menurutnya, pengembangan Fase 3 BSD City sebagai mesin pertumbuhan selanjutnya. Hal ini akan menjaga belanja modal tetap tinggi, dengan belanja modal semester I – 2026 mencapai Rp 3,2 triliun (dibandingkan Rp 2,2 triliun pada semester I – 2025), sehingga meningkatkan utang menjadi Rp 18,7 triliun (naik 46% YoY). 

Kevin juga menyukai BSDE karena cadangan lahannya yang besar yakni lebih dari 2.000 hektar (ha) di BSD City. Hal tersebut memberikan fleksibilitas pengembangan jangka Panjang yang didukung oleh neraca keuangan yang kuat.   

“Kami juga mengharapkan prospek penjualan lahan usaha patungan yang kuat dari ‘Hiera’ dan ‘Nava Park 2’ untuk mendukung arus kas dan sebagian mengimbangi tekanan neraca keuangan,” kata Kevin Halim dalam risetnya pada 6 Agustus 2026. 

Kevin Halim mengatakan bahwa rasio utang BSDE tetap sehat, dengan rasio utang bersih hanya 19%. Meski begitu, terdapat potensi risiko yang perlu diwaspadai. Antara lain kondisi ekonomi yang bergejolak menghambat keputusan pembelian properti. Fluktuasi suku bunga hipotek dapat memengaruhi pra-penjualan. Serta ketidakpastian politik menyebabkan mentalitas konsumen dalam fase wait and see, yang memengaruhi pra-penjualan. 

Nurwachidah memproyeksi pendapatan dan laba bersih BSDE pada tahun 2026 masing – masing sebesar Rp 12,47 triliun dan Rp 2,39 triliun. Proyeksi tersebut lebih rendah dibanding realisasi pendapatan BSDE pada tahun 2025 yang sebesar Rp 12,78 triliun dan laba bersih sebesar Rp 2,57 triliun. 

Nurwachidah dan Kevin Halim merekomendasikan Buy saham BSDE dengan target harga masing – masing Rp 915 per saham dan Rp 800 per saham. 

Sementara Kevin Yudha melihat adanya potensi koreksi jangka pendek terlebih dahulu ke area support di kisaran harga Rp 630. “Masih perlu wait n see, untuk melihat apabila saham bisa stay di area support ini,” ucap Kevin Yudha.

Baca Juga: Menanti Data Transaksi Berjalan, Begini Proyeksi Rupiah Besok (21/8)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News