Martina Berto (MBTO) Bidik Penjualan Rp 501 Miliar, Lanjutkan Efisiensi di 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Martina Berto Tbk (MBTO) optimistis dapat mencapai target kinerja yang telah ditetapkan untuk tahun 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh kinerja semester I 2026 yang mencatat pertumbuhan penjualan sekaligus perbaikan profitabilitas.

Direktur Utama PT Martina Berto Tbk Bryan Tilaar mengatakan, hingga semester I 2026, penjualan bersih MBTO mencapai sekitar Rp 254 miliar, tumbuh 36,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 186 miliar.

“Dengan yang telah dicapai di semester 1 tahun 2026, maka sampai dengan YTD Desember 2026 target 2026, antara lain net sales full year tahun 2026 yaitu Rp501 miliar dengan value growth 24% sekian dibandingkan full year 2025,” ujar Bryan kepada KONTAN, Kamis (17/9/2026).


Baca Juga: Novo Dorong Kolaborasi Memperkuat Keamanan Obat

Selain pertumbuhan penjualan, MBTO juga berhasil memperbaiki kinerja operasional. Laba usaha pada semester I 2026 berbalik positif menjadi sekitar Rp25 miliar, dari sebelumnya rugi usaha Rp6,5 miliar.

Dengan demikian, margin laba usaha MBTO mencapai sekitar 9,86% pada semester I 2026. Sementara itu, Earning Before Interest, Depreciation and Expense (EBID) meningkat dari sekitar Rp984 juta menjadi Rp31 miliar.

Perbaikan kinerja juga terlihat pada laba setelah pajak. MBTO mencatat laba setelah pajak sekitar Rp13 miliar pada semester I 2026, berbalik dari rugi sekitar Rp16 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut turut membuat sejumlah rasio keuangan perseroan berbalik positif. Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing tercatat sebesar sekitar 1,91% dan 3,69%.

Dengan kinerja tersebut, MBTO menargetkan penjualan bersih sepanjang 2026 mencapai Rp501 miliar. Perseroan juga menargetkan laba usaha sebesar Rp47 miliar, EBID sebesar Rp61 miliar, serta laba setelah pajak sebesar Rp24 miliar. “Kami optimistis ini dapat tercapai,” kata Bryan.

Di sisi lain, MBTO masih menghadapi tantangan dari kondisi global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya bahan baku yang digunakan dalam produksi kosmetik dan produk beauty personal care.

Baca Juga: Pelita Air Perkuat Keandalan Operasional

Bryan mengatakan, perseroan terus memantau perkembangan tersebut dan melakukan sejumlah langkah untuk menjaga biaya produksi (cost of goods manufactured/COGM).

“Gonjang-ganjing global dan melemahnya kurs Rupiah terhadap USD, terus kita monitor, supplier pun kita cari alternatif, negosiasi, sehingga COGM kita, kita coba terus usaha tetap terjaga baik,” jelasnya.

Menurut Bryan, strategi tersebut berjalan bersamaan dengan upaya melakukan efisiensi pada biaya pemasaran dan penjualan serta biaya umum. Langkah efisiensi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung perbaikan profitabilitas MBTO pada semester I 2026.

Di sisi permintaan, MBTO juga terus memantau kebutuhan dan pola konsumsi masyarakat. Bryan mengakui masih terdapat tekanan terhadap daya beli masyarakat secara umum.

“Kebutuhan konsumen tetap terus kita monitor, sambil kita manage risiko dengan sangat baik, memang ada penurunan daya beli di konsumsi masyarakat secara umum, dan untuk industri beauty personal care pertumbuhannya tetap sangat menjanjikan,” ungkapnya.

Untuk semester II 2026, MBTO akan melanjutkan strategi yang telah disampaikan perseroan dalam public expose dan konferensi pers setelah RUPST dan RUPSLB tahun buku 2025 pada akhir Juni 2026.

Perseroan akan melanjutkan efisiensi di sisi pemasaran dan penjualan, biaya umum serta COGM, sembari menjaga pencapaian penjualan agar tetap sesuai dengan target hingga akhir tahun.

“Efisiensi di marketing sales, biaya umum, COGM tetap terus kita lakukan sambil menjaga pencapaian sales supaya tetap on track sampai YTD Desember 2026,” jelasnya

Baca Juga: Empat Proyek PSEL PSN Mulai Dibangun, Investasi Tembus Rp 15,9 Triliun

Adapun kinerja MBTO tidak hanya ditopang oleh kinerja dua merek yang dikelola langsung oleh Martina Berto, tetapi juga berasal dari bisnis toll manufacturing melalui Cedefindo. Selain itu, kontribusi turut berasal dari kinerja Martha Tilaar Shop, baik melalui kanal offline maupun online, termasuk penjualan melalui berbagai marketplace.

“Kinerja MBTO yang sudah ada selain dari performance merek yang Martina Berto sendiri manage, juga bisnis toll manufacturing di Cedefindo, ditambah performance Martha Tilaar Shop offline dan online, serta masuk ke marketplace,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News