Masa Depan EV Terancam? Dua Raksasa Ini Justru Berbalik Arah



KONTAN.CO.ID - LONDON. Momentum kendaraan listrik global mulai kehilangan tenaga. Data Benchmark Mineral Intelligence (BMI) menunjukkan, pendaftaran kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dunia turun 3% secara tahunan (year on year) pada Januari 2026 menjadi sekitar 1,2 juta unit. Angka ini mencakup mobil listrik berbasis baterai (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV).

Koreksi ini terjadi di tengah kombinasi kebijakan yang kurang ramah, salah satunya China mulai mengenakan pajak pembelian dan memangkas subsidi EV, sementara Amerika Serikat (AS) mengubah arah kebijakan di bawah Presiden Donald Trump. Dua pasar besar tersebut justru menjadi sumber pelemahan utama.

Bloomberg (13/2) melaporkan, di China, pendaftaran EV anjlok 20% menjadi di bawah 600.000 unit terendah dalam hampir dua tahun. Di Amerika Utara, penjualan merosot 33% menjadi sekitar 85.000 unit. Bahkan, AS mencatat penjualan bulanan terendah sejak awal 2022.


Kondisi ini menambah tekanan bagi produsen otomotif global. Sepanjang setahun terakhir, pabrikan dengan eksposur besar ke pasar AS tercatat membukukan writedown hingga US$ 55 miliar. Mereka terpaksa mengerem ambisi elektrifikasi di tengah lesunya permintaan, perang harga yang belum usai di China, serta bauran model kendaraan yang kian kompleks di Eropa.

Baca Juga: Schroders Selesai, Era 222 Tahun Berakhir di Tangan Raksasa AS

Strategi dagang

Ironisnya, Uni Eropa dan China justru melonggarkan sejumlah regulasi pendukung transisi energi. Sinyal ini mempertegas bahwa agenda elektrifikasi kini berhadapan dengan realitas ekonomi dan politik yang tak sederhana.

Eropa memang masih mencatat pertumbuhan 24% menjadi lebih dari 320.000 unit pada Januari. Namun, laju tersebut merupakan yang paling lambat sejak Februari tahun lalu. Artinya, pasar lama pun mulai kehilangan akselerasi.

Di luar tiga kawasan utama, kinerja justru melonjak 92% menjadi hampir 190.000 unit tertinggi sepanjang sejarah. Insentif di Thailand serta pertumbuhan kuat di Korea Selatan dan Brasil menjadi penopang. China pun mulai agresif mendorong ekspor EV.

“Kami melihat peningkatan jumlah ekspor EV dari China,” ujar Manajer Data BMI Charles Lester. Ia memperkirakan ekspor akan terus digenjot hingga 2026, menyasar berbagai kawasan termasuk Asia Tenggara yang belakangan menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Di balik angka-angka tersebut, arah transisi energi global kian dipertanyakan. Para pendukung elektrifikasi menekankan urgensi penurunan emisi CO2. Namun, produsen mobil menilai peralihan yang terlalu cepat berisiko menggerus laba dan lapangan kerja.

Tak heran, mobil hybrid sebagai jalan tengah antara mesin pembakaran internal dan listrik murni kian digemari. Meski begitu, sejumlah pakar mengingatkan, dominasi mild hybrid yang masih bertumpu pada bahan bakar fosil hanya memberi kontribusi terbatas terhadap penurunan emisi.

Baca Juga: Skandal McDonald's India Pakai Minyak Tak Layak dan Tomat Busuk

Selanjutnya: 35 Ucapan Valentine Bahasa Inggris Paling Romantis, Kirim untuk Pasangan

Menarik Dibaca: 35 Ucapan Valentine Bahasa Inggris Paling Romantis, Kirim untuk Pasangan

TAG: