Masa Depan Starbucks, Strategi Baru di Tengah Gempuran Pesaing



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Di Amerika Serikat, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah ritual pagi, teman bekerja, sekaligus pelarian kecil dari rutinitas yang padat. Angkanya pun berbicara lantang bahwa warga Amerika kini minum kopi lebih banyak dibandingkan puluhan tahun terakhir. Namun, di tengah lonjakan konsumsi itu, ada satu ironi yang kian terasa, semakin banyak cangkir kopi yang tidak lagi dibeli di Starbucks.

Starbucks, merek yang pernah menjadi simbol revolusi budaya kopi Amerika, masih berdiri sebagai raksasa. Hampir 17.000 gerai tersebar di seluruh negeri, ratusan lagi dalam rencana pembukaan. Tetapi dominasi itu mulai retak, pangsa belanja Starbucks di kedai kopi AS turun menjadi 48% pada 2024–2025, dari sebelumnya 52% pada 2023. Penurunan kecil di atas kertas, namun sarat makna di lapangan.

Bukan karena orang berhenti mencintai Starbucks. Mereka hanya tak lagi setia.


“Orang-orang kini poliamori dalam urusan kopi,” ujar Chris Kayes dari George Washington University. Konsumen tetap datang ke Starbucks, tetapi juga singgah ke Dunkin’, mampir ke Dutch Bros, mencoba Luckin, atau sekadar penasaran dengan kedai drive-thru baru di sudut kota. Kesetiaan tunggal bergeser menjadi eksplorasi.

Pasar kopi Amerika kini penuh sesak. Dunkin’ menambah agresivitas dengan membuka gerai ke-10.000. Dutch Bros tumbuh cepat dengan konsep serba cepat dan porsi besar. Luckin Coffee dari China masuk membawa kupon digital dan harga miring. Bahkan restoran cepat saji seperti McDonald’s dan Taco Bell ikut mengincar ceruk minuman.

“Pasokannya terlalu banyak dibandingkan permintaan,” kata Neil Saunders dari GlobalData Retail. Bagi Starbucks, ukuran besar yang dulu menjadi keunggulan, kini justru membatasi ruang gerak. Gerainya sudah terlalu banyak, namun pertumbuhan lewat ekspansi tak lagi semudah dulu.

Baca Juga: Ledakan Terjadi di Pelabuhan Abbas, Iran Selatan

Starbucks memilih tidak panik.

Alih-alih berlomba perang harga atau meniru konsep drive-thru murni, Starbucks kembali ke akar identitasnya kafe sebagai ruang singgah. Perusahaan ini menambah 25.000 kursi di kafe-kafe AS, merancang ulang interior agar lebih hangat, lebih mengundang untuk duduk lama. “Ini jiwa Starbucks,” kata Chief Operating Officer Mike Grams.

Starbucks percaya pertumbuhan bukan soal berubah menjadi sesuatu yang baru, melainkan menjadi lebih baik dari apa yang sudah ada. Gerai berformat lebih kecil dikembangkan, lebih hemat biaya, namun tetap menyediakan tempat duduk, drive-thru, dan layanan mobile. Menu pun diperbarui pastry baru, camilan tinggi protein, dan rencana minuman energi yang bisa dikustomisasi.

Langkah ini terasa penting, sebab di mata konsumen muda, Starbucks dinilai tertinggal dalam inovasi. Dutch Bros lebih dulu menawarkan kopi berprotein. Minuman energi menjadi seperempat bisnis mereka. Sementara Starbucks baru menyusul, setelah tren itu mapan di pesaing.

Soal harga pun tak terelakkan. Rata-rata pelanggan Starbucks menghabiskan US$ 9,34 per transaksi lebih mahal dibandingkan Dutch Bros dan jauh di atas Dunkin’. Bagi sebagian konsumen, selisih ini cukup untuk berpaling.

“Saya rasa Starbucks terlalu mahal,” ujar Xunyi Xie, seorang pelanggan yang memilih Luckin karena promo US$ 1,99. Ia bukan anti-Starbucks. Ia hanya lebih rasional.

Manajemen Starbucks sadar diskon bukan jawaban. Dalam industri dengan pesaing yang selalu bisa lebih murah, perang harga hanya akan melemahkan merek. Starbucks memilih mempertahankan harga dan mencoba membuktikan nilainya melalui pengalaman, bukan sekadar minuman.

Namun pertanyaannya menggantung, apakah itu cukup?

Sebagian pelanggan yang mencari suasana nyaman dan premium sudah terlanjur jatuh hati pada kedai independen atau merek kelas atas seperti Blue Bottle. Aura Starbucks sebagai sesuatu yang istimewa, unik, dan mendebarkan seperti kata Kayes perlahan memudar, justru karena keberhasilannya sendiri.

Starbucks kini berada di persimpangan sunyi. Ia masih besar, masih kuat, tetapi tak lagi sendirian di hati pecinta kopi. Di negeri yang semakin gemar menyeruput kafein, Starbucks harus kembali meyakinkan satu hal sederhana: bahwa secangkir kopinya masih layak dipilih, bukan sekadar karena nama, tetapi karena rasa dan ruang yang ditawarkannya.

Baca Juga: Lembaga Anti Korupsi Tiongkok Tengah Menyelidiki Menteri Manajemen Darurat

Selanjutnya: Nasib Rupiah Februari: Investor Wajib Tahu 2 Pemicu Pelemahan Ini

TAG: