Masa kedaluwarsa singkat, kemana perginya produk Rejuve yang tidak laku?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masalah utama dalam bisnis pangan berupa makanan dan minuman fresh tanpa pengawet adalah masa kedaluwarsa yang singkat. Hal ini juga berlaku bagi juice dengan merek Re.juve yang merupakan minuman tanpa bahan pengawet.

Produk dengan range harga Rp 50.000 hingga Rp 100.000 merupakan produk premium dengan kualitas buah segar yang terjaga. Di awal tahun 2015 produk ini hanya mampu bertahan 1 sampai 2 hari.

Selanjutnya dengan teknologi Cold Pressed Facility (CPF) produk ini mulai mampu bertahan 3 hingga 4 hari. Lalu kemana perginya seluruh juice yang tidak lagu di pasaran ?


“Kita selama ini dengan melakukan stok management yang baik tidak terlalu banyak waste. Kalau memang ada yang tersisa pasti akan dimusnahkan,” kata Managing Director PT Sewu Segar Primatama Richard Anthony di Cikupa Banten, Rabu (12/12).

Richard mengaku dengan membuat juice segar dan higienis, maka masa kedaluwarsanya cukup singkat. Oleh sebab itu perlu adanya teknologi untuk memudahkan agar juice segar dapat dinikmati lebih lama.

“Dengan mesin yang baik kita bisa 3-4 hari dan itu kita masih terbatas di jabodetabek. Bagaiman biar bisa menolong customer lebih banyak dengan tidak merubah value kita untuk juice yang enak, sehat, natural, alami dan transparan (kandungannya). Kita ketemu teknologi HPP (High Presure) ini,” ungkapnya.

Dengan teknologi HPP maka waste akan semakin berkurang karena proses kadaluwarsa akan lebih lama lagi.

HPP ini sebelumnya sudah digunakan di beberapa negara misalkan di Thailand dalam teknologi pengawetan air kelapa dan di Singapura untuk pengawetan sup, di Amerika serikat digunakan untuk mengawetkan makanan bayi, ham dan bacon tanpa unsur bahan pengawet.

“Ini akan lebih baik karena bisa lebih cepat, fleksibel dan kualitas terkontrol. Simplicity nya dengan enggak merubah kandungan juice dan yang pasti dari segi cost akan lebih efisien dengan kualitas premium,” ungkapnya.

Dengan penggunaan teknologi yang tak murah ini Richard menjelaskan tidak akan menaikkan harga. “Kita berusaha untuk tidak menaikkan harga lagi, dengan minimnya waste, mungkin bisa kita turunkan lagi harganya karena kedaluwarsa lebih panjang,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto