Nasib harga timah tergantung perkembangan perang dagang AS-China



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cenderung masih bergerak lemah, prospek harga timah hingga akhir tahun diperkirakan masih akan tercatat lesu. Hal ini terjadi lantaran sentimen negatif yang masih menghantui harga timah hingga akhir tahun.

Berdasarkan data Bloomberg, harga timah kontrak tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) per Jumat (23/8) turun 1,82% ke level US$ 15.880 per metrik ton sekaligus jadi yang terendah sepanjang 2019. Sementara alam sepekan terakhir, harga timah telah terkoreksi 3,61%.

Analis Pruton Mega Berjangka Cahyo Dewanto mengatakan, untuk sementara ini harga timah terpantau melemah, kondisi tersebut disebabkan beberapa hal.


Baca Juga: Genjot ekspor, Timah (TINS) perkuat pasar asia

Pertama, karena semakin memanasnya sentimen perang dagang antara AS dengan China. Sebagaimana diketahui, kedua negara tersebut semakin gencar melakukan aksi balas membalas tarif impor.

Sehingga, kondisi tersebut dianggap cukup mengkhawatirkan bagi prospek Industri China. Apalagi, Negeri Tirai Bambu merupakan pengimpor komoditas timah terbesar di dunia saat ini.

Untuk itu, Cahyo menegaskan, potensi bullisnya harga timah sangat tergantung pada perkembangan perang dagang. "Sinyal bullish saat ini belum nampak, karena pasar susah memprediksi sikap mendua Trump yang membuat pasar bingung," jelas Cahyo kepada Kontan.co.id, Selasa (27/8).

Baca Juga: Permintaan Lesu Akibat Perang Dagang, Harga Timah Makin Lemah

Secara teknikal, harga timah masih bergerak bearish pada moving average (MA)50, MA100 dan juga MA200. Sedangkan untuk indikator RSI, harga berada di area 14 dan mengindikasikan jual, begitu juga dengan MACD yang berada di area 12,26.

Sedangkan untuk indikator Stochastic berada di area 9,6 yang mengindikasikan harga timah untuk beli. Namun, untuk indikator ADX dan CCI yang sama-sama berada di area 14 masih mengindikasikan jual.

Baca Juga: Permintaan lesu akibat perang dagang, harga timah masih berada dalam fase koreksi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto