Kendati bisnis makanan ringannya mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah, bukan berarti Rudiyanto tak menghadapi kendala dalam menjalankan bisnis ini. Pria asal Lampung ini bilang bilang, usahanya ini kerap terkendala minimnya pasokan bahan baku tepung tapioka. Maklumlah, seluruh produk snack bikinannya menggunakan bahan baku utama tepung tapioka. Kendati Lampung sendiri terkenal sebagai penghasil tepung tapioka terbesar di Indonesia, ia ternyata mendatangkan pasokan tepung tapioka dari Pulau Jawa. "Masalahnya, belum ada yang bisa mengolah tapioka menjadi kerupuk. Kami masih harus membeli bahan setengah jadi dari Pulau Jawa," ujar pria yang akrab disapa Rudi ini.
Padahal, jika kerupuk mentah itu dapat diproduksi di Lampung, ia memperkirakan akan ada penghematan sekitar Rp 120 juta per bulan. Rudi memang sudah berniat mendirikan pabrik pengolahan tepung tapioka menjadi kerupuk mentah di Lampung. Untuk itu, ia berencana meminjam modal ke lembaga pembiayaan PT Sarana Lampung Ventura (SLV). Rudi sudah membeli tanah seluas 3.000 meter persegi sebagai lokasi pembangunan pabrik. Adapun biaya investasi yang dibutuhkan untuk pendirian pabrik ini mencapai Rp 2 miliar. "Setelah dihitung-hitung, saya bisa balik modal dalam waktu sekitar 88 bulan," katanya. Bila rencana itu terwujud, Rudi tidak akan menemui kendala bahan baku lagi. Bahkan, ia bisa memasok bahan baku ke produsen makanan ringan lain di Lampung. Selain kendala bahan baku, Rudi juga mengeluhkan tentang kenaikan harga barang-barang dan biaya transportasi. Untuk menekan kerugian, Rudi juga berencana menaikkan harga jual produk makanannya. "Harga snack sebesar Rp 500 per bungkus itu sudah tidak dapat dipertahankan, dengan kondisi harga bahan baku dan tarif transportasi yang serba-tinggi," ujarnya. Namun sebelumnya, ia mengaku akan bertemu dengan Asosiasi Makanan Ringan Indonesia dulu untuk membicarakan soal kenaikan harga ini. Selain opsi menaikkan harga, Rudi juga tengah berupaya melakukan efisiensi untuk menekan ongkos produksi. Antara lain dengan merancang mesin sendiri yang bisa memproduksi secara otomatis. "Mesin ini dapat menghemat biaya tenaga kerja sehingga meningkatkan kapasitas produksi," ujarnya.
Bahkan, rancangan mesin yang bernilai Rp 200 juta ini diharapkan bakal jadi salah satu sumber pemasukan sampingan untuknya, yakni dengan menjual mesin. Agar penjualan snack MR Dollar terus meningkat, ia juga gencar melakukan promosi hadiah kepada agen, distributor, dan konsumen, mulai hadiah uang di dalam kemasan hingga hadiah nampan dan gelas untuk setiap pembelian satu pak keripik. Rudi juga gencar melakukan inovasi produk. Salah satu produk diferensiasinya adalah kerupuk Jengkol Dollar. "Kerupuk ini berbeda dari snack lain di pasaran. Belum ada yang memasarkan," tambahnya. Selain snack, Rudi juga berencana merambah bisnis jely dalam waktu dekat. "Pasarnya menjanjikan," katanya. (Selesai) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News