KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen investor global terhadap pasar saham Indonesia masih cenderung hati-hati hingga bearish. Pandangan ini lantaran investor khawatir atas ketidakpastian kebijakan dan minimnya katalis jangka pendek yang kuat. Maybank Sekuritas dalam laporan pada 11 Juni 2026 mengaku telah melakukan rangkaian kunjungan pemasaran (
marketing trip) ke Kuala Lumpur dan Singapura pada pekan ini. Dalam kunjungan tersebut, Maybank Sekuritas bertemu dengan sekitar 10 investor institusi, termasuk
sovereign wealth fund, dana pensiun berbasis GLC,
hedge fund,
family office, hingga
global fund. Hasil diskusi menunjukkan bahwa posisi investor terhadap Indonesia saat ini sudah relatif netral hingga ringan, namun keyakinan untuk kembali masuk pasar masih terbatas.
Baca Juga: IHSG Tembus 6.000 Ditopang Saham BUMN, Danantara Sebut Hasil Transformasi Menurut Analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset, banyak investor menilai valuasi saham Indonesia sudah sangat murah setelah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar -31,7% secara
year-to-date, dengan level indeks kembali ke posisi yang terakhir terlihat pada 2021. Di sisi lain, pelemahan rupiah lebih dari 7% terhadap dolar AS juga membuat level masuk investasi menjadi lebih menarik. “Beberapa investor mulai mencari waktu yang tepat untuk masuk kembali dan melakukan bottom fishing secara selektif, tetapi keyakinan masih rendah,” ujar Jeffrosenberg dalam riset. Namun demikian, ia juga mencatat sebagian investor telah mengalihkan alokasi ke pasar lain akibat kinerja Indonesia yang berkepanjangan di bawah ekspektasi. Menurut Jeffrosenberg, kekhawatiran utama investor masih bersifat top-down, mencakup arah kebijakan fiskal, sikap Bank Indonesia, prospek rupiah, hingga risiko implementasi program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Investor juga menyoroti sejumlah risiko eksternal seperti review investabilitas MSCI pada Juni, potensi penurunan status Indonesia ke Frontier Market, serta tinjauan peringkat utang oleh S&P yang dijadwalkan pada Juli. Selain itu, perhatian juga tertuju pada rencana pembentukan badan ekspor baru, termasuk pertanyaan mengenai implementasi, potensi gangguan kontrak eksisting, hingga peran lembaga tersebut sebagai perantara perdagangan.
Baca Juga: IHSG Melonjak 7% dalam Sepekan, Tapi Asing Masih Kabur Sebesar Rp 67 Triliun Meski demikian, Jeffrosenberg mencatat adanya perbaikan dalam arah kebijakan pemerintah. Beberapa perkembangan yang dianggap lebih konstruktif antara lain kebijakan suku bunga off-cycle oleh Bank Indonesia, kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, serta penyesuaian timeline pembentukan badan ekspor yang lebih bertahap. Selain itu, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang disebut akan menjadi perantara BUMN perdagangan penuh pada akhir tahun, sementara Kementerian ESDM memastikan skema gross split di sektor tambang tidak akan diterapkan. “Langkah-langkah ini membantu mengurangi ketidakpastian kebijakan, meski investor masih menunggu kejelasan eksekusi,” tulis Jeffrosenberg. Di tingkat sektor, komoditas menjadi fokus utama investor global. Banyak pihak menilai sektor pertambangan dapat menjadi titik awal strategi bottom fishing, didukung pelemahan rupiah yang memberi dorongan tambahan bagi emiten berbasis dolar AS. Jeffrosenberg menilai sejumlah saham tambang saat ini telah terkoreksi secara berlebihan, meskipun risiko regulasi relatif lebih rendah dibanding sektor lain. Ia menyarankan seleksi pada emiten dengan pendapatan berbasis dolar dan eksposur regulasi yang terbatas. Dalam kunjungannya, ia menyoroti beberapa saham seperti ANTM, INCO, dan AMMN sebagai pilihan utama di sektor tersebut. Untuk investor konservatif, strategi yang direkomendasikan masih buy on weakness sambil menunggu kejelasan lebih lanjut terkait kebijakan ekspor dan cakupan regulasi komoditas. Di sisi lain, sejumlah investor juga mulai melirik saham konsumer yang murah. Namun, minat tersebut belum diikuti keyakinan yang kuat. Jeffrosenberg menggunakan tiga kriteria utama yakni valuasi rendah, kepemilikan asing yang menurun, serta dividen yang menarik. Dari pendekatan tersebut, ia menilai saham ACES dan INDF sebagai pilihan menarik dengan
dividend yield sekitar 9% dan valuasi yang dianggap atraktif.
Baca Juga: Harga Ayam dan Pakan Naik, Saham Sektor Poultry Dinilai Masih Tahan Banting Namun, sentimen sektor konsumer masih campuran. Risiko seperti pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, tekanan margin, hingga isu pembiayaan fintech dan perjudian online dinilai dapat menekan daya beli masyarakat. Secara keseluruhan, Maybank Sekuritas tetap menyarankan pendekatan selektif. Sektor tambang dinilai paling menarik untuk akumulasi bertahap, sementara saham konsumer masih membutuhkan kehati-hatian hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan dan daya beli domestik. “Fokus utama tetap pada saham tambang yang sudah terkoreksi berlebihan namun memiliki risiko regulasi relatif rendah serta eksposur dolar yang kuat,” demikian kesimpulan Jeffrosenberg. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News