Maskapai berekspansi, sekolah pilot yang menikmati



Saat kebutuhan tinggi, pasokan pilot baru sangat terbatas. Beberapa maskapai memilih mendirikan sekolah pilot sendiri. Beberapa pemain baru juga berusaha mengambil peluang. Cuma, biaya pendidikan yang mahal masih jadi kendala. Langkah demonstrasi para pilot Garuda yang memprotes perbedaan gaji dengan pilot asing bukan tanpa sebab. Industri penerbangan yang maju pesat 10 tahun terakhir tidak diimbangi dengan pasokan pilot yang cukup. Apalagi, banyak maskapai menambah armada pesawatnya. Alhasil, peran sekolah penerbangan yang khusus mendidik pilot sangat vital. Hitung saja, idealnya, satu pesawat butuh tujuh sampai 10 pilot. Jika Lion dan Garuda masing-masing bakal mendatangkan 50 pesawat baru di 2012, berarti dua maskapai itu saja butuh 1.000 pilot baru. Sebenarnya, di Indonesia sudah ada banyak sekolah penerbangan. Sebut saja National Aviation Management Flying School (NAM), Aero Flyer Institute, Wings Flight School, Deraya Flying School, Alfa Flying School, dan Bali Internasional Flight Academy (BIFA). Tapi, total jenderal, sekolah pendidikan itu baru memasok 200 pilot - 300 pilot per tahun. Karena itu, banyak maskapai memilih membuka sendiri sekolah penerbangan untuk menjamin pasokan pilot. Yang terbaru adalah PT Asi Pudjiastuti. Perusahaan yang menaungi maskapai tak berjadwal Susi Air ini sedang membangun sekolah penerbangan di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Kabarnya, proses izin operasi sekolah itu masih diproses di Kementerian Perhubungan. Tapi, pembangunan fasilitas belajar mengajar sudah dimulai. Fasilitas di sekolah ini juga cukup lengkap, termasuk lima simulator pesawat. Kalau tidak ada aral melintang, tahun depan, sekolah mulai beroperasi. Sekolah ini diharapkan bisa memasok 20 pilot - 40 pilot setahun untuk Susi Air. Untuk proyek ini, PT Asi Pudjiastuti menganggarkan dana US$ 60 juta. Sayang, Susi Pudjiastuti, pemilik PT Asi Pudjiastuti, belum mau buka-bukaan. "Untuk modalnya sekitar segitu, tapi soal lain, saya belum bisa komentar sekarang. Kami masih berduka," elaknya. Beberapa pekan lalu, satu pesawat Susi Air jatuh di Papua.Pemain non-maskapai yang mencoba peruntungan di bisnis ini adalah PT Castele Mark Limited. Perusahan asal Hong Kong ini baru saja meresmikan Lombok Institute of Flight Technology (LIFT). Lokasinya ada di Bandara Selaparang, Lombok. Investasi proyek ini kabarnya menelan dana sebesar US$ 2,5 juta. Sekolah ini mematok tarif masuk sebesar US$ 66.000 per siswa.Peminatnya besarSeiring dengan kebutuhan maskapai, peminat sekolah penerbangan terus meningkat pesat. Ambil contoh Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug. Menurut Vetty Fatonah, Kepala Bagian Humas STPI Curug, pendaftar ke sekolah milik pemerintah ini meningkat tajam. Tahun ini, 2.000 orang mendaftar dan hanya 500 orang diterima untuk berbagai jurusan. Tahun lalu, pelamarnya mencapai 1.700 orang.Kondisi serupa terjadi di Deraya Flying School. Dito Suharto, Staf Ground Handling Deraya Flying School menjelaskan, pelamar sekolah ini meningkat 50% tahun ini. Di Aero Flyer Institute, peningkatan pelamar di institut penerbangan milik Batavia Airlines ini mencapai 40%-50% dibandingkan dengan tahun lalu.Andie Kurniawan, Vice Presindent Aero Flyer Institute, bilang bahwa pasar sekolah cukup luas. Mayoritas pelamar adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA). Biaya pendidikannya cukup mahal, sekitar US$ 55.000. "Sudah banyak yang sadar, meski biayanya mahal, modalnya cepat balik," ujarnya.Irma Damayanti Djohan, Chief Finance Officer (CFO) PT Bali Widya Dirgantara, pemilik Bali International Flight Academy (BIFA), menambahkan, biaya sekolah pilot di Indonesia masih lebih murah ketimbang di beberapa negara di Asia Tenggara dan Australia. Di BIFA, biaya pendidikan selama 12 bulan sebesar Rp 600 juta. Itu sudah termasuk uang asrama, simulator, instruktur asing, dan kebutuhan makan. Meski begitu, Irma mengakui, bisnis ini rawan merugi. Pasalnya, Irma tidak bisa menarik siswa terlalu banyak. Sebaliknya, jika siswa terlalu sedikit, dampak ke operasional juga terasa. "Harus pas," ujarnya. Maklum, modal bisnis ini sangat besar. Saat berdiri pada 2009, modal awal BIFA sekitar US$ 2,5 juta atau setara Rp 32 miliar.Sebagian dana itu digunakan untuk membeli pesawat Cessna yang harganya mencapai Rp 1 miliar. Setiap sekolah butuh lebih dari satu pesawat. Perlu juga simulator pesawat. Sebagai gambaran, harga simulator merek Frasca mencapai Rp 1,5 miliar. Menurut Irma, margin laba bisnis ini hanya 10%. "Balik modal bisnis ini sekitar enam sampai tujuh tahun," terangnya.Untuk menjamin jumlah siswa yang pas, sekolah penerbangan memberi beasiswa dan jaminan kerja, serta bekerja sama dengan bank. Sebagian biaya pendidikan itu bisa dicicil setelah bekerja. Cara lain adalah mengikat siswa dengan kontrak ikatan dinas. Biasanya, sekolah pendidikan bekerja sama dengan maskapai tertentu. "Inti dari bisnis ini adalah siswa. Kalau tidak ada siswa, bisa tutup," kata Irma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi