KONTAN.CO.ID - Maskapai penerbangan di seluruh dunia mulai menyesuaikan tarif tiket mereka menyusul lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Air New Zealand menjadi salah satu maskapai pertama yang mengumumkan kenaikan harga tiket secara luas, sekaligus menunda proyeksi keuangan 2026 karena ketidakpastian konflik. Jet fuel, yang sebelumnya diperdagangkan sekitar US$85–90 per barel, kini melonjak antara US$150–200 per barel.
Baca Juga: Taiwan Tingkatkan Impor Gas Alam AS Mulai Juni untuk Antisipasi Dampak Perang Iran Air New Zealand telah menaikkan tarif ekonomi sekali jalan sebesar NZ$10 untuk rute domestik, NZ$20 untuk penerbangan internasional jarak pendek, dan NZ$90 untuk rute jarak jauh. Maskapai menegaskan, jika harga bahan bakar tetap tinggi, penyesuaian tarif tambahan mungkin diperlukan, termasuk perubahan jadwal dan rute. Maskapai lain, seperti Vietnam Airlines, meminta pemerintah setempat menghapus pajak lingkungan atas jet fuel untuk meringankan biaya operasional yang meningkat 60%–70% akibat harga bahan bakar tinggi. Sementara itu, suplai jet fuel di Selandia Baru dilaporkan aman, meski maskapai bekerja sama dengan pemerintah untuk memantau kondisi global. Lonjakan harga minyak sempat menekan saham maskapai, namun pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang dapat segera berakhir membuat pasar bergejolak, dan harga minyak turun kembali ke sekitar US$90 per barel pada Selasa.
Baca Juga: Ringgit Malaysia dan Rupiah Memimpin Penguatan Mata Uang Asia pada Selasa (10/3) Pagi Saham maskapai di Asia menunjukkan stabilisasi: Air New Zealand naik 2% setelah sebelumnya turun hampir 8%, Korean Air Lines naik 6%, Qantas Airways Australia naik lebih dari 1%, dan Japan Airlines meningkat lebih dari 2%. Bahan bakar menjadi biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja, biasanya menyumbang 20%–25% dari total biaya operasional maskapai. Meski beberapa maskapai Asia dan Eropa memiliki hedging minyak, maskapai AS hampir tidak melakukan hedging selama dua dekade terakhir. Selain harga bahan bakar, penutupan ruang udara akibat konflik membatasi kapasitas, membuat harga tiket di beberapa rute melonjak dan memaksa calon penumpang mempertimbangkan ulang rencana perjalanan, terutama menjelang musim liburan musim panas.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Singapura Waspada Dampaknya pada Inflasi dan Biaya Hidup Konflik ini juga berdampak luas pada industri pariwisata. Maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad mengangkut sepertiga penumpang dari Eropa ke Asia, serta lebih dari setengah penumpang dari Eropa ke Australia, Selandia Baru, dan Pulau Pasifik. Di Korea Selatan, HanaTour membatalkan paket wisata ke Timur Tengah dan membebaskan biaya pembatalan. Sementara itu, Kementerian Pariwisata Thailand memperingatkan jika konflik berlangsung lebih dari delapan minggu, negara itu bisa kehilangan sekitar 596.000 turis dan 40,9 miliar baht (US$1,29 miliar) pendapatan pariwisata. Lonjakan harga bahan bakar dan gangguan rute ini menegaskan tantangan besar bagi maskapai global, sekaligus mendorong mereka untuk segera menyesuaikan tarif demi menjaga kelangsungan operasional.