Maskapai Global Naikkan Tarif Tiket Akibat Lonjakan Harga Avtur Dampak Perang Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maskapai penerbangan global mulai menaikkan tarif tiket seiring melonjaknya harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya operasional ini menambah tekanan pada industri penerbangan global yang masih berupaya menjaga stabilitas operasi di tengah ketidakpastian geopolitik.

Maskapai asal Australia, Qantas Airways, dan maskapai nasional Selandia Baru, Air New Zealand, pada Selasa (10/3) menyatakan telah menaikkan tarif penerbangan karena lonjakan harga avtur yang terjadi secara tiba-tiba.

Harga avtur yang sebelumnya berada di kisaran US$85 hingga US$90 per barel sebelum konflik, kini melonjak tajam menjadi US$150 hingga US$200 per barel dalam beberapa hari terakhir. Air New Zealand bahkan menangguhkan proyeksi keuangan untuk tahun 2026 karena ketidakpastian yang dipicu oleh konflik tersebut.


Baca Juga: NATO Kerahkan Sistem Patriot AS ke Turki, Perkuat Pertahanan dari Ancaman Rudal Iran

Lonjakan harga energi dipicu oleh perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang mendorong harga minyak dunia meroket. Situasi ini berdampak luas terhadap industri perjalanan global, termasuk meningkatnya harga tiket pesawat di sejumlah rute, potensi penurunan permintaan perjalanan, hingga risiko penghentian operasional pesawat secara luas.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga memicu gangguan pada lalu lintas udara. Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan bahwa sejumlah pesawat yang hendak mendarat di Dubai sempat ditahan di udara pada Selasa pagi karena potensi serangan rudal. Pesawat-pesawat tersebut akhirnya dapat mendarat dengan aman.

Qantas menyatakan selain menaikkan tarif penerbangan internasional, perusahaan juga tengah mempertimbangkan pengalihan kapasitas penerbangan ke rute Eropa. Langkah ini diambil seiring maskapai dan penumpang berupaya menghindari gangguan penerbangan di wilayah Timur Tengah yang terdampak serangan drone dan rudal.

Maskapai tersebut juga mencatat lonjakan permintaan pada rute ke Eropa. Tingkat keterisian kursi penerbangan Qantas menuju Eropa pada Maret mencapai lebih dari 90%, jauh di atas tingkat normal sekitar 75% pada periode yang sama.

Kondisi serupa juga terjadi pada rute Asia–Eropa. Penutupan wilayah udara dan keterbatasan kapasitas penerbangan membuat tarif tiket melonjak tajam. Maskapai Hong Kong, Cathay Pacific Airways, mengumumkan penambahan penerbangan ke London dan Zurich selama Maret untuk mengakomodasi lonjakan permintaan.

Baca Juga: Turki: Sistem Patriot AS Dikerahkan untuk Perkuat Pertahanan Udara Saat Perang Iran

Sementara itu, Air New Zealand menaikkan tarif ekonomi sekali jalan sebesar NZ$10 untuk rute domestik, NZ$20 untuk penerbangan internasional jarak pendek, serta NZ$90 untuk penerbangan jarak jauh. Maskapai tersebut juga membuka kemungkinan perubahan tambahan pada harga tiket, jaringan rute, dan jadwal penerbangan apabila harga avtur tetap tinggi.

Maskapai lain juga mulai menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar. Hong Kong Airlines menyatakan akan menaikkan fuel surcharge hingga 35,2% mulai Kamis. Kenaikan terbesar berlaku pada penerbangan dari Hong Kong menuju Maladewa, Bangladesh, dan Nepal, dengan biaya tambahan naik menjadi HK$384 dari sebelumnya HK$284.

Cathay Pacific sendiri menyatakan meninjau biaya tambahan bahan bakar setiap bulan. Pada bulan lalu, maskapai ini mempertahankan tarif surcharge sebesar US$72,90 per perjalanan untuk penerbangan antara Hong Kong dengan Eropa dan Amerika Utara sebelum konflik pecah.

Di Asia Tenggara, Vietnam Airlines meminta pemerintah setempat menghapus pajak lingkungan atas bahan bakar jet untuk membantu mempertahankan operasional maskapai. Pemerintah Vietnam menyatakan biaya operasional maskapai domestik telah meningkat 60% hingga 70% akibat kenaikan harga avtur, sementara pemasok bahan bakar juga kesulitan memenuhi permintaan maskapai.

Saham Maskapai Mulai Stabil

Di pasar keuangan, saham maskapai sempat tertekan tajam akibat lonjakan harga minyak. Namun kondisi mulai stabil setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin menyatakan perang berpotensi segera berakhir.

Pernyataan tersebut membuat harga minyak turun dari US$119 per barel pada Senin menjadi sekitar US$90 per barel pada Selasa.

Di bursa Asia, saham Qantas naik 0,5%, saham Korean Air Lines melonjak hampir 9%, sementara Cathay Pacific naik lebih dari 4% setelah sebelumnya mencatat penurunan tajam pada perdagangan Senin.

Dalam struktur biaya maskapai, bahan bakar merupakan pengeluaran terbesar kedua setelah tenaga kerja. Biaya bahan bakar biasanya menyumbang 20% hingga 25% dari total biaya operasional.

Baca Juga: Aramco Peringatkan Dampak “Katastropik” Jika Selat Hormuz Terus Terganggu

Sebagian maskapai besar di Asia dan Eropa memiliki strategi lindung nilai (hedging) minyak untuk menekan risiko lonjakan harga energi. Namun sebagian besar maskapai di Amerika Serikat telah menghentikan praktik tersebut dalam dua dekade terakhir.

Industri Pariwisata Global Terancam

Lonjakan harga bahan bakar juga berpotensi memberikan dampak serius terhadap industri pariwisata global. Maskapai saat ini sudah menghadapi keterbatasan ruang udara karena pilot harus memutar rute untuk menghindari wilayah konflik di Timur Tengah, sementara kapasitas pada rute populer semakin penuh.

Data perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan bahwa tiga maskapai Timur Tengah—Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways—secara normal melayani sekitar sepertiga penumpang rute Eropa–Asia serta lebih dari separuh penumpang dari Eropa menuju Australia, Selandia Baru, dan kawasan Pasifik.

Dampak konflik juga mulai terasa pada sektor perjalanan wisata. Perusahaan perjalanan Korea Selatan, HanaTour Service, mengumumkan pembatalan sejumlah paket tur yang mencakup penerbangan ke Timur Tengah serta membebaskan biaya pembatalan bagi pelanggan yang terdampak. Seluruh tur terkait Timur Tengah untuk Maret juga dihentikan sementara.

Di Thailand, Kementerian Pariwisata memperkirakan jika konflik berlangsung lebih dari delapan minggu, negara tersebut berpotensi kehilangan sekitar 595.974 wisatawan dan pendapatan pariwisata sebesar 40,9 miliar baht atau sekitar US$1,29 miliar.