JAKARTA. Kabar tidak sedap datang bagi maskapai penerbangan nasional. Menurut lembaga pemeringkat keselamatan penerbangan, AirnlinesRatings.com, hampir seluruh maskapai penerbangan domestik memiliki skor tingkat keamanan penerbangan yang paling rendah selama tahun 2015. Bila lembaga ini memberi peringkat dari satu sampai tujuh, sebagian maskapai Indonesia justru memperoleh nilai terminim yakni satu. Lembaga ini menyebut, kerap terjadinya kerusakan pesawat serta pesawat yang jatuh menjadi faktor penyebab keselamatan penerbangan maskapai domestik menjadi pertanyaan. Apalagi, sebut lembaga ini, instansi yang berwenang mengawasi penerbangan domestik yakni Kementerian Perhubungan disinyalir tidak mempunya standar pengawasan yang mumpuni atau kelas dunia. "Padahal, industri penerbangan adalah salah satu aspek krusial bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara," ucap Geoffrey Thomas, redaktur AirlineRatings.com seperti dikutip The Sydney Morning Heralds(6/1) Menurut JA Barat, Kepala Humas Kementerian Perhubungan, rating dari lembaga tersebut tidak akurat. Soalnya masih menyertakan nama maskapai yang sudah tidak beroperasi yakni Merpati Airlines. Sedangkan menurut Arif Wibowo, Ketua INACA seperti dikutip Kompas.com, mempertanyaan secara serius hasil suvei tesebut lantaran menyangkut keselamatan dan keamanan penebangan. Hal yang sangat krusial di industri ini.
Maskapai Indonesia paling tidak aman
JAKARTA. Kabar tidak sedap datang bagi maskapai penerbangan nasional. Menurut lembaga pemeringkat keselamatan penerbangan, AirnlinesRatings.com, hampir seluruh maskapai penerbangan domestik memiliki skor tingkat keamanan penerbangan yang paling rendah selama tahun 2015. Bila lembaga ini memberi peringkat dari satu sampai tujuh, sebagian maskapai Indonesia justru memperoleh nilai terminim yakni satu. Lembaga ini menyebut, kerap terjadinya kerusakan pesawat serta pesawat yang jatuh menjadi faktor penyebab keselamatan penerbangan maskapai domestik menjadi pertanyaan. Apalagi, sebut lembaga ini, instansi yang berwenang mengawasi penerbangan domestik yakni Kementerian Perhubungan disinyalir tidak mempunya standar pengawasan yang mumpuni atau kelas dunia. "Padahal, industri penerbangan adalah salah satu aspek krusial bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara," ucap Geoffrey Thomas, redaktur AirlineRatings.com seperti dikutip The Sydney Morning Heralds(6/1) Menurut JA Barat, Kepala Humas Kementerian Perhubungan, rating dari lembaga tersebut tidak akurat. Soalnya masih menyertakan nama maskapai yang sudah tidak beroperasi yakni Merpati Airlines. Sedangkan menurut Arif Wibowo, Ketua INACA seperti dikutip Kompas.com, mempertanyaan secara serius hasil suvei tesebut lantaran menyangkut keselamatan dan keamanan penebangan. Hal yang sangat krusial di industri ini.