Mata Uang Asia Babak Belur Akibat Oil Shock, Rupiah Dekati Level Psikologis Baru
Kamis, 21 Mei 2026 22:49 WIB
Diperbarui Kamis, 21 Mei 2026 22:50 WIB
Oleh: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID. Negara-negara Asia mulai mengambil langkah darurat untuk menopang ekonomi mereka di tengah guncangan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah. Tekanan paling nyata terlihat dari pelemahan tajam mata uang di kawasan, termasuk rupiah, rupee India, hingga peso Filipina, yang tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia. Melansir Reuters Kamis (21/5/2026), Asia merupakan kawasan yang paling rentan terhadap gangguan energi global karena membeli sekitar 80% minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut kini terganggu akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Baca Juga: Rupiah Anjlok Dalam, BI dan Pemerintah Goyong Royong Cari Jurus Penyelamat Tekanan di pasar valuta asing menjadi sinyal bahwa lonjakan harga energi mulai menggerus pertumbuhan ekonomi kawasan. Pemerintah dan bank sentral di Asia kini menghadapi dilema besar antara menjaga stabilitas mata uang atau mempertahankan pertumbuhan ekonomi domestik. India dan Indonesia Tempuh Langkah Darurat Di India, pemerintah bahkan meminta masyarakat mengurangi perjalanan ke luar negeri dan menahan pembelian emas demi membantu menjaga stabilitas rupee yang kini berada di level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Baca Juga: Ditjen Pajak Kejar Peserta Tax Amnesty dan PPS, Harta Belum Terungkap Rp 406 Triliun Sumber Reuters menyebut Perdana Menteri India Narendra Modi juga memangkas iring-iringan kendaraan dinasnya untuk menghemat bahan bakar. Sementara itu, pelaku pasar memperkirakan bank sentral India menggelontorkan hingga US$ 1 miliar per hari untuk menopang mata uangnya. Indonesia juga mengambil langkah agresif. Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin guna menopang rupiah yang juga berada di rekor terendah terhadap dolar AS. Selain itu, pemerintah Indonesia memutuskan mengambil alih pengelolaan ekspor sejumlah komoditas strategis demi memastikan devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri dan memperkuat pasokan valuta asing domestik.
Filipina Bersiap Naikkan Suku Bunga Lagi Filipina pun telah menaikkan suku bunga, sementara pasar mulai memperkirakan adanya kenaikan suku bunga lanjutan di luar jadwal rapat rutin bank sentral karena tekanan inflasi yang semakin tinggi. Head of Global Fixed Income Asia Pacific BlackRock Navin Saigal mengatakan, negara-negara Asia kini menghadapi tekanan berat karena kenaikan suku bunga memang dapat menarik aliran modal masuk, tetapi juga berisiko memperlambat ekonomi domestik. Baca Juga: Timur Tengah Bergejolak, Ekonomi Global Bersiap Hadapi Guncangan Besar "Berapa banyak kenaikan suku bunga yang dibutuhkan untuk menarik modal masuk? Jawabannya mungkin sangat banyak. Namun di sisi lain, dampaknya terhadap ekonomi domestik juga bisa sangat besar," ujar Saigal. India, Indonesia, dan Filipina dinilai paling rentan karena ketiganya merupakan importir minyak bersih sekaligus menghadapi arus keluar modal asing. Situasi makin berat setelah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat. Rupiah dan Rupee Tertekan Investor Asing Akibat tekanan global tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.700 per dolar AS, rupee India mendekati 97 per dolar AS, dan peso Filipina hampir mencapai 62 per dolar AS. Tekanan terhadap Indonesia juga datang dari kekhawatiran investor atas kebijakan pemerintah yang dinilai semakin intervensif. Rupiah telah melemah sekitar 12% terhadap dolar AS sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat. Baca Juga: Pekan Kelam Bursa RI, Peringatan MSCI, IHSG Rontok Hingga Pimpinan OJK BEI Mundur Cadangan devisa Indonesia pun turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir akibat intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah pemerintah memutuskan memusatkan kontrol ekspor komoditas strategis. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings bahkan memperingatkan kebijakan tersebut berpotensi menekan ekspor, pendapatan pemerintah, dan neraca pembayaran Indonesia. Investor Soroti Kebijakan Pemerintah Global Chief Economist FIM Partners Charlie Robertson menilai, kebijakan pemerintah Indonesia mencerminkan pendekatan intervensi negara yang dapat mengurangi minat investasi asing. "Apakah ini terlihat seperti pemerintah yang lebih tahu dibanding pasar? Apa yang terjadi dalam enam bulan terakhir menunjukkan arah yang terlalu banyak bergerak ke sisi negatif," ujarnya. Baca Juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Independensi Bank Sentral Dipertanyakan Sementara itu, tekanan terhadap India juga meningkat karena penggunaan cadangan devisa dan kontrak forward dolar yang semakin besar untuk mempertahankan stabilitas rupee. Strategis Asia Macro JB Drax Honore Vivek Rajpal mengatakan, pasar mulai mencermati ketahanan cadangan devisa India karena komitmen forward dolar negara tersebut kini melampaui US$ 100 miliar. Menurut dia, bank sentral India, Indonesia, dan Filipina kemungkinan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Namun tekanan pasar dinilai belum akan mereda selama konflik di Timur Tengah terus berlangsung. Mata Uang Asia Masih Rentan Sejumlah bank investasi global kini merekomendasikan investor untuk menjual mata uang Asia yang rentan terhadap oil shock dan beralih ke mata uang yang dinilai lebih kuat seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan China, atau won Korea Selatan. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News