KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Di antara mata uang utama kawasan, won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar, sementara rupiah masih berada di zona pelemahan. Mengutip
Reuters, hingga pukul 02.03 GMT, won Korea Selatan menguat 0,67% ke level 1.467,60 per dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan pada perdagangan pagi.
Baca Juga: Thailand Perketat Aturan Transaksi Emas, Pembayaran Tunai Bakal Dibatasi Mata uang Asia lain yang juga menguat terhadap dolar AS antara lain:
- Dolar Taiwan naik 0,31%.
- Yuan China menguat 0,09%.
- Dolar Singapura bertambah 0,08%.
- Yen Jepang menguat tipis 0,04%.
Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan mengalami pelemahan, yakni:
- Rupiah Indonesia melemah 0,20% ke level Rp 17.910 per dolar AS.
- Ringgit Malaysia turun 0,05%.
- Peso Filipina melemah 0,02%.
- Baht Thailand turun tipis 0,01%.
- Rupee India relatif tidak berubah.
Baca Juga: Dua VLCC China Angkut 4 Juta Barel Minyak Saudi, Tinggalkan Laut Merah Rupiah termasuk yang paling tertekan sepanjang 2026 Secara tahun berjalan (year to date/ytd), rupiah menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS. Hingga perdagangan Kamis, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,92% dibandingkan posisi akhir 2025.
Pelemahan yang lebih besar hanya terjadi pada rupee India yang turun 6,93%, sementara baht Thailand melemah 6,88%.
Baca Juga: Zohran Mamdani Tak Bisa Tangkap Netanyahu di New York, Ini Dasar Hukumnya Di sisi lain, yuan China justru menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan sepanjang 2026 dengan penguatan sekitar 3,24% terhadap dolar AS. Sementara itu, yen Jepang telah melemah sekitar 3,94% sejak akhir 2025, won Korea Selatan turun 1,91%, dolar Taiwan melemah 2,59%, dolar Singapura terkoreksi 0,33%, dan ringgit Malaysia turun 0,73% terhadap dolar AS.