KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Pelaku pasar masih menahan diri menjelang sejumlah agenda penting bank sentral global, sehingga volatilitas di kawasan relatif rendah. Di antara mata uang utama Asia, peso Filipina menjadi yang berkinerja paling lemah dengan pelemahan sekitar 0,3% terhadap dolar AS.
Mata uang tersebut diperdagangkan di level 60,386 per dolar AS, lebih rendah dibanding posisi sebelumnya di 60,204. Sementara itu, yen Jepang menguat tipis 0,1% ke level 160,16 per dolar AS. Won Korea Selatan juga naik sekitar 0,08%, sedangkan dolar Taiwan menguat marginal 0,01%.
Baca Juga: Rupiah dan Ringgit Tumbang Bareng, Mata Uang Asia Kompak Tertekan Dolar AS Di sisi lain, sejumlah mata uang kawasan mengalami tekanan ringan. Baht Thailand melemah 0,08%, ringgit Malaysia turun 0,17%, yuan China terkoreksi 0,05%, dan dolar Singapura melemah 0,04% terhadap dolar AS. Secara tahunan, sebagian besar mata uang Asia masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS sepanjang 2026. Sementara itu mata uang rupiah menjadi salah satu yang mengalami tekanan terbesar dengan depresiasi sekitar 5,77% sejak awal tahun 2026, dari posisi 16.670 per dolar AS pada akhir 2025 menjadi sekitar 17.690 per dolar AS. Won Korea Selatan juga tercatat melemah 4,92% sepanjang tahun berjalan, diikuti rupee India yang turun 5,11%, baht Thailand 3,45%, peso Filipina 2,63%, dan yen Jepang 2,19%. Sebaliknya, yuan China menjadi salah satu mata uang yang masih mencatat penguatan terhadap dolar AS pada 2026.
Baca Juga: Rupiah Terendah Sepanjang Sejarah, Mata Uang Asia Terkapar Mata uang Negeri Tirai Bambu itu menguat sekitar 3,37% dibanding posisi akhir tahun lalu. Dolar Singapura juga masih membukukan apresiasi tipis 0,2%, sementara ringgit Malaysia relatif stabil dengan kenaikan 0,02%. Pergerakan yang cenderung datar menunjukkan investor masih menunggu arah kebijakan moneter global berikutnya, terutama dari bank-bank sentral utama, sebelum mengambil posisi yang lebih agresif di pasar valuta asing Asia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News