Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Rabu (15/4), Ringgit dan Dolar Taiwan Menguat



KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Rabu (15/4/2026), di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap perkembangan negosiasi AS–Iran.

Mengutip data Reuters pukul 02.12 GMT, sebagian besar mata uang kawasan bergerak tipis dengan kecenderungan mixed.

Beberapa mata uang mencatatkan penguatan. Dolar Taiwan menguat sekitar 0,23% ke level 31,618 per dolar AS. Ringgit Malaysia juga naik 0,15% ke posisi 3,943 per dolar AS.


Baca Juga: Perang Iran Picu Kelangkaan Plastik, Kemasan Ramah Lingkungan Kebanjiran Pesanan

Penguatan juga terjadi pada baht Thailand yang naik 0,06%, serta dolar Singapura yang menguat tipis 0,03%.

Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,08% ke level 158,90 per dolar AS. Peso Filipina turun 0,03%, sementara yuan China terkoreksi tipis 0,03%. Rupiah juga tercatat melemah 0,06% ke level Rp 17.120 per dolar AS.

Sementara itu, won Korea Selatan dan rupee India relatif stabil dengan pergerakan yang sangat terbatas.

Secara year to date (YTD) sejak akhir 2025, mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS.

Rupee India mencatat pelemahan terdalam sebesar 3,75%, diikuti rupiah yang melemah 2,63% dan won Korea Selatan 2,25%.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (15/4), Harapan Negosiasi AS-Iran Angkat Saham Tambang

Sebaliknya, beberapa mata uang justru menguat terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar sebesar 2,87% secara ytd, disusul yuan China yang menguat 2,50% dan dolar Singapura 1,16%.

Pergerakan terbatas ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar global yang masih mencermati perkembangan geopolitik, khususnya potensi lanjutan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran