KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Ringgit Malaysia memimpin penguatan, sementara rupiah kembali melemah di tengah tekanan dolar AS yang masih kuat. Mengacu data
Reuters pada pukul 02.07 GMT, ringgit menguat 0,29% ke level 4,072 per dolar AS dari posisi 4,084 pada perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut menjadi yang terbesar di antara mata uang Asia yang tercatat dalam data tersebut.
Baca Juga: Bursa Asia Bertahan di Tengah Lonjakan Yield US Treasury dan Harga Minyak Yen Jepang juga menguat 0,26% menjadi 158,420 per dolar AS. Won Korea Selatan naik 0,14% ke 1.364,27 per dolar AS, sedangkan peso Filipina menguat 0,13% menjadi 62,622 per dolar AS. Sementara itu, dolar Singapura relatif stabil dengan penguatan tipis 0,02% ke 1,279. Baht Thailand melemah 0,04% menjadi 33,433 per dolar AS. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan. Rupiah melemah 0,14% ke level Rp17.910 per dolar AS dari Rp17.885 pada perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS berada dalam tren penguatan. Indeks dolar AS tercatat naik sekitar 1% sepanjang pekan ini, didorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Pergerakan pasar valuta asing Asia juga dibayangi kenaikan yield US Treasury bertenor panjang. Yield obligasi AS tenor 10 tahun telah menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade, sementara yield tenor 30 tahun berada di level tertinggi sejak 2004. Kenaikan yield tersebut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Baca Juga: Dolar AS Menguat 1% Sepekan, Yield US Treasury dan The Fed Jadi Penopang Kinerja mata uang Asia sepanjang 2026 Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025, sebagian besar mata uang Asia masih mencatat pergerakan yang beragam sepanjang 2026. Ringgit mencatat penguatan 0,75% sejak akhir 2025. Yuan China juga menguat 3,97%, sedangkan won Korea Selatan naik 4,39%.
Dolar Singapura menguat 1,16% sepanjang tahun berjalan. Sebaliknya, yen Jepang melemah 1,70%, dolar Taiwan turun 0,90%, dan baht Thailand terdepresiasi 4,13%. Tekanan lebih besar terlihat pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Peso Filipina melemah 4,79%, rupee India turun 5,81%, sedangkan rupiah menjadi salah satu yang mencatat pelemahan terdalam, yakni 6,11% dibandingkan posisi akhir 2025. Data tersebut menunjukkan penguatan dolar AS masih menjadi faktor penting yang membayangi pasar valuta asing Asia. Investor kini mencermati arah kebijakan The Fed serta perkembangan inflasi dan harga energi global sebagai penentu pergerakan mata uang dalam waktu dekat.
Baca Juga: Arab Saudi Dapat Dukungan Turki-Pakistan, Serangan Houthi Ganggu Arus Minyak