Mata Uang Asia Bertenaga dalam Sepekan, Simak Sentimen yang Menopangnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mata uang Asia bertenaga di tengah dolar Amerika Serikat (AS) yang tertekan akibat prospek penurunan bunga acuan di semester II. Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Jumat (8/3) nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,42% ke level Rp 15.590 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah juga menguat sebesar 0,73% dari penutupan pekan lalu di Rp 15.704 per dolar AS. 

Selain rupiah, dalam sepekan yen Jepang juga naik sebesar 2,16% ke 146,94 per dolar AS, dolar Singapura juga naik 1,06% ke 1,329 per dolar AS.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, sentimen utama tentunya datang dari data-data ekonomi AS yang sudah mulai menunjukkan pendinginan ekonomi, terutama data inflasi.


Lukman menuturkan, menurut survey investor dan trader, The Fed juga belum berencana memangkas suku bunga paling tidak hingga Juni 2024. Namun, pasar sudah mulai mengantisipasi dengan melepas dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Menguat 0,73% dalam Sepekan, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

"Hal tersebut dengan harapan, siklus penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia akan dimulai pada paruh kedua, perlemahan dolar AS dan mata uang yang memangkas suku bunga juga diharapkan masih akan berlangsung cukup lama," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Jumat (8/3).

Selain itu, Lukman mengatakan sentimen lainnya datang dari mata uang terutama emerging yang selama ini tertekan, akan berbalik menguat hingga pada suatu saat bank sentral emerging market juga ikut menurunkan suku bunga.

"Namun ada beberapa mata uang yang mungkin akan berbeda, seperti China Yuan yang mata uang mereka lebih merespon pertumbuhan ekonomi dan global, dan Yen Jepang yang masih teka-teki kapan BoJ akan mengakhiri suku bunga negatif," kata dia.

Sedangkan untuk dolar Singapura, Lukman bilang, mereka menganut sistem manage float yang nilai tukarnya akan di atur sedemikian rupa untuk mencapai target inflasi.

Namun, untuk nilai tukar mata uang Asia lainnya, dia mengatakan bahwa secara umum lebih ditentukan oleh kebijakan The Fed.

Lukman memprediksi, pada akhir tahun 2024 mata uang Asia akan menguat, di mana rupiah diperkirakan bisa kembali di bawah Rp 15.000 - Rp 14.500 per dolar AS, SGD 1.3 - 1.32 per doalr AS, MYR 4.4 - 4.5 per dolar AS, THB 32 - 35 per dolar AS, JPY 140 - 142 per dolar AS, dan CNY 7.0 - 7.1 per dolar AS.    

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, sepanjang pekan ini, pergerakan mata uang regional Asia cenderung menguat terhadap dollar AS, sejalan dengan pelemahan dollar index (DXY) yang merupakan kinerja dollar AS terhadap mata uang utama.

Menurut Josua, pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh beberapa perkembangan dari Fed dan bank sentral global lainnya. Apalagi, Gubernur The Fed Jerome Powell mengungkapkan keyakinan bahwa the Fed akan mencapai target inflasi sebesar 2%, sehingga memungkinkan untuk memulai siklus pelonggaran.

"Komentar tersebut muncul setelah pernyataannya pada hari Rabu, yang mengisyaratkan kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini jika perlambatan inflasi berlanjut. Data terbaru mengungkapkan pelonggaran pasar tenaga kerja, dengan jobless claims meningkat lebih dari yang diantisipasi, dan kenaikan biaya tenaga kerja lebih rendah dari yang diekspektasikan," kata Joshua kepada Kontan.co.id, Jumat (8/3).

Baca Juga: Makin Berotot, Rupiah Spot Menguat 0,42% ke Rp 15.590 Per Dolar AS Pada Jumat (8/3)

Selain itu, Josua mengatakan, sentimen lainnya datang dari jumlah individu yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran di AS akan meningkat, yaitu sebesar 217.000. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang hanya sebesar 215.000.

Kemudian, pada kuartal keempat 2023, biaya tenaga kerja di sektor bisnis nonpertanian AS juga naik dengan laju tahunan sebesar 0,4% secara quarter on quarter (qoq) di bawah perkiraan awal peningkatan sebesar 0,5% qoq dan ekspektasi pasar sebesar 0,6% qoq.

Lebih lanjut, Josua menuturkan, Yen Jepang tetap menguat di tengah spekulasi bahwa BoJ mungkin menaikkan suku bunga kebijakan di bulan ini. Meski di tengah indikator ekonomi AS yang terus melemah, tetapi sentimen risk-on meningkat.

"Apalagi selama sepekan terakhir, dollar index melemah 0,9% ke level 102,88 pada Jumat sore ini. Sedangkan Yen Jepang diikuti oleh baht Thailand dan ringgit Malaysia mencatatkan apresiasi atau penguatan yang terbesar terhadap dollar AS dalam sepekan ini," kata Josua.

Josua memprediksi, pergerakan mata uang regional Asia pada pekan depan akan dipengaruhi oleh rilis beberapa data ekonomi seperti, data pertumbuhan ekonomi EuroZone pada kuartal keempat 2023, yang diperkirakan akan berkisar 0,1% secara year on year (yoy).

Selain itu dari AS, data tenaga kerja Amerika Serikat bulan Februari 2024 yaitu Non-Farm Payroll diperkirakan akan menurun menjadi 200.000 dari bulan sebelumnya yang mencapai 300.000. Namun, tingkat pengangguran bulan Februari 2024 diproyeksikan akan cenderung flat di kisaran 3,7%.

"Lalu dari Tiongkok, data inflasi Tiongkok pada bulan Februari 2024 akan baik, CPI diperkirakan akan cenderung meningkat 0,3% yoy dari bulan sebelumnya yang deflasi 0,8% yoy dan PPI diperkirakan stabil deflasi di kisaran 2,5% yoy," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, di pekan depan, ada beberapa data yang akan dirilis antaranya yakni, laju inflasi AS bulan Februari 2024 yang diperkirakan 0,4% mtm atau 3,1% yoy, dari bulan sebelumnya 0,3% mtm atau 3,1% yoy.

Sementara retail sales AS bulan Februari 2024, Joshua memperkirakan, berkisar 0,8% yoy dari bulan sebelumnya yang turun 0,8% yoy.

"Jadi dengan beberapa data ekonomi global, maka penguatan mata uang regional Asia pada pekan ini diperkirakan akan berlanjut meskipun cenderung lebih terbatas," tandang Josua. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi