Mata Uang Asia Melonjak, Ringgit dan Dolar AS Melesat ke Level Tertinggi di Siang Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura melonjak ke level tertinggi seiring pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) secara luas setelah yen melonjak karena investor tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi untuk mendukung mata uang Jepang. 

Penguatan yen menekan dolar AS dan mendorong mata uang Asia lebih tinggi, dengan indeks MSCI mata uang pasar berkembang naik 0,5% ke level tertinggi sepanjang masa. 

Investor juga mengurangi posisi dolar AS menjelang pertemuan Federal Reserve dan kemungkinan pengumuman ketua The Fed yang baru. The Fed diproyeksi akan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu (28/1/2026). 


Indeks dolar AS, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang, turun 0,4% ke level terendah empat bulan. 

Baca Juga: Bangun Kosambi (CBDK) Injeksi Modal Rp 250 Miliar ke Entitas Anak, Ini Tujuannya

"Kita mungkin berada di ambang penurunan berkelanjutan pada indeks dolar AS secara luas," kata Lloyd Chan, analis mata uang senior di MUFG. 

"Dengan latar belakang dolar yang lebih lemah, kita melihat penguatan yang luas di seluruh mata uang Asia." 

Hingga tengah hari ini, Ringgit Malaysia melonjak 0,8% menjadi 3,968 per dolar AS, level terkuatnya dalam lebih dari tujuh tahun. 

Mata uang ini, yang termasuk di antara mata uang dengan kinerja terkuat di Asia tahun ini, melampaui level psikologis penting 4 per dolar pada hari Jumat (23/1/2026). 

Bank sentral Malaysia mempertahankan suku bunga pekan lalu dan menegaskan bahwa momentum pertumbuhan tahun lalu akan berlanjut hingga tahun mendatang, meningkatkan optimisme terhadap mata uang tersebut. 

Di sisi lain, dolar Singapura menguat ke level terkuatnya sejak akhir Oktober 2014 dan terakhir berada di 1,2682 per dolar AS. 

Otoritas Moneter Singapura (MAS) diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter tidak berubah pada tinjauan hari Kamis, dengan prospek pertumbuhan didukung oleh permintaan yang kuat untuk ekspor semikonduktor dan inflasi yang diperkirakan terkendali. 

Baca Juga: Rupiah Makin Menguat ke Rp 16.771 per Dolar AS di Siang Ini (26/1)

Chan dari MUFG mengatakan sikap kebijakan MAS akan membantu mendukung dolar lokal. Dia mengatakan mata uang tersebut berada pada "level teknis penting", di mana ia dapat menguat menuju 1,2600-1,2650 per dolar AS jika dolar AS melemah lebih lanjut. 

Won Korea Selatan, yang telah kehilangan lebih dari 2,5% dalam tiga minggu pertama bulan ini, menguat 1,6%. 

Sedangkan, rupiah terliaht menguat 0,2%, peso Filipina naik tipis 0,1%. 

Saham-saham regional secara umum menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan saham Taiwan naik tipis ke rekor tertinggi, sementara saham Korea Selatan turun 0,8% setelah mengalami kenaikan selama tiga hari berturut-turut. 

Selanjutnya: Minat Investor Mulai Pulih, IPA Dorong Iklim Investasi Hulu Migas Lebih Kompetitif

Menarik Dibaca: IHSG Diprediksi Konsolidatif, Ini 3 Rekomendasi Saham Uptrend Pekan Ini dari IPOT

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News