KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah volatilitas harga komoditas, mata uang komoditas terpantau bergerak menguat. Penguatan itu dinilai lebih disebabkan oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (29/8) pukul 18.39 WIB, pairing NZDUSD terpantau menguat 2,20% dalam sepekan terakhir. Lalu pairing USDCHF melemah 0,90% dan USDCAD melemah 1,06% dalam sepakan. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan bahwa penguatan mata uang tersebut umumnya didukung oleh pelemahan pada dolar AS yang menyentuh level terendah dalam lebih dari setahun. "Mata uang komoditas akan didukung oleh prospek dimulainya siklus pemangkasan suku bunga the Fed," kata dia kepada Kontan.co.id, Kamis (29/8).
Tetapi sejumlah sentimen masih berpotensi menekan harga komoditas. Misalnya, perang, konflik, dan perlambatan ekonomi, khususnya di China. Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat di Perdagangan Akhir Pekan, Jumat (30/8) Lukman menerangkan, komoditas utama Kanada adalah produk energi minyak bumi. Nah, permintaan dan harga minyak bumi diperkirakan masih akan menurun. Lalu Selandia Baru lebih ke soft commodity, seperti buah-buahan, daging, dan susu. Dia melihat komoditas tersebut juga tetap terimbas perlambatan, meskipun tidak sebesar komoditas energi dan logam. Sementara ekonomi Swiss lebih ke manufaktur, walau sektor jasa masih yang utama. Di sisi lain, mata uang ini juga lebih identik sebagai mata uang safe haven. "Jadi karakter ketiganya cukup berbeda," paparnya. Baca Juga: Harga Tembaga dan Aluminium Terus Turun Akibat Permintaan China yang Lemah Dari ketiga mata uang itu, Lukman menilai NZD yang paling menarik dari kacamata kebijakan suku bunga. Lukman menilai nilai tukar NZD, dengan inflasi dan suku bunga yang tertinggi akan lebih menarik dibandingkan CAD. Sedangkan CHF sudah pada target inflasi dan tingkat suku bunga ideal dan akan terus menjadi pilihan safe haven di tengah ketidakpastian. Untuk potensi kenaikan di masa depan, kemungkinan naik lebih jauh akan terbatas. Sebab, posisi mata uang komoditas ini sudah priced-in dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps pada September, serta 100 bps hingga akhir tahun.