Mata Uang Rupee India Jatuh ke Level Terendah Sepanjang Masa



KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Rupee India jatuh ke level terendah sepanjang masa pada Senin (9/3/2026). Kekhawatiran perang berkepanjangan di Timur Tengah mengguncang mata uang regional termasuk rupee India, dan kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran atas pertumbuhan dan inflasi global.

Rupee jatuh ke level terendah sepanjang masa di 92,3475, dengan kemungkinan intervensi penjualan dolar oleh Bank Sentral India mencegah kerugian yang lebih besar. Rupee ditutup turun 0,6% di level 92,3275 pada Senin (9/3/2026).

Harga minyak mentah naik di atas US$ 100 per barel, ke level yang belum pernah terlihat sejak pertengahan 2022, menambah tekanan pada perekonomian Asia yang mengimpor minyak. Kurs rupiah dan peso Filipina juga mencapai titik terendah sepanjang masa.


Saham dan obligasi global juga berada di bawah tekanan, dengan indeks saham Asia Pasifik MSCI turun hampir 4% dan kontrak berjangka menunjukkan awal yang sulit bagi saham Wall Street.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus US$ 119 per Barel, Tertinggi Sejak 2022

Indeks acuan India, Nifty 50, turun 1,7%, penurunan harian terbesar dalam sebulan, sementara imbal hasil obligasi acuan 10 tahun naik sekitar 4 bps.

Obligasi mengalami penurunan di berbagai pasar, dari Tokyo hingga Inggris, karena investor khawatir akan risiko inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah, seiring dengan berlanjutnya kampanye AS-Israel melawan Iran.

India, di sisi lain, tidak memperkirakan inflasi akan meningkat secara substansial akibat lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu oleh perang, kata Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman pada hari Senin.

Inflasi harga konsumen India berada di angka 2,75% pada bulan Januari, mendekati batas bawah rentang toleransi bank sentral sebesar 2%-6%. Namun, rupee kemungkinan akan bergantung pada intervensi bank sentral untuk menghindari penurunan tajam.

"RBI kemungkinan akan terus mendukung INR dalam jangka pendek ... untuk membatasi dampak kumulatif depresiasi INR lebih lanjut terhadap tagihan impor minyak," kata Apoorva Javadekar, kepala ekonom di Muthoot FinCorp seperti dikutip Reuters.

Tekanan pada rupee juga terlihat pada lonjakan premi forward dolar-rupee, yang mencerminkan biaya lindung nilai terhadap pelemahan rupee lebih lanjut. Imbal hasil tersirat 1 tahun naik hampir 20 bps menjadi 2,93%, level tertinggi sejak Desember 2025.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Picu Gejolak Pasar Global, Obligasi Dunia Tertekan