KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (
MAXI), produsen makanan ringan dengan merek Maxi Snacks, semakin agresif memperluas pasar ekspor pada tahun 2026. Langkah ini menjadi salah satu strategi utama perseroan untuk mendorong pertumbuhan bisnis di tengah tantangan kinerja pada awal tahun. Direktur Maxindo Karya Anugerah, Garrett Suryowijoyo Kartono, mengungkapkan bahwa hingga saat ini produk MAXI telah menembus 30 negara tujuan ekspor. Sejumlah pasar yang telah digarap perusahaan antara lain Amerika Serikat (AS), Australia, kawasan Eropa, Kanada, Tiongkok, Belanda, Selandia Baru, Jepang, dan berbagai negara lainnya. Untuk meningkatkan kontribusi pasar internasional, MAXI tidak hanya mempertahankan pasar ekspor yang sudah ada, tetapi juga mempercepat ekspansi ke kawasan Timur Tengah dan Asia.
"Negara seperti Tiongkok, Singapura, dan Gulf Cooperation Council (GCC) menjadi target utama dalam meningkatkan pangsa pasar internasional perusahaan," ungkapnya dalam paparan publik secara virtual, Kamis (4/6/2026). Garrett menjelaskan, perusahaan memang memosisikan produknya sebagai makanan ringan premium dengan standar kualitas ekspor. Strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan daya saing produk MAXI di pasar global yang semakin kompetitif.
Baca Juga: Menakar Rencana Penerapan Skema Gross Split di Sektor Tambang Minerba Sejalan dengan upaya memperluas jangkauan pasar, perusahaan juga berencana mengembangkan lini produk baru yang menyasar segmen menengah atas (medium-high). Pengembangan produk tersebut akan dilakukan tanpa mengurangi standar kualitas yang selama ini menjadi keunggulan perusahaan. Di sisi lain, MAXI sempat menghadapi tantangan pada awal tahun ini akibat gangguan jalur perdagangan internasional yang dipicu penutupan Selat Hormuz. Kondisi tersebut berdampak terhadap pengiriman produk ke sejumlah negara tujuan ekspor, terutama Kuwait. " Tetapi untuk negara tujuan ekspor lain, seperti Yordania, Qatar, tidak ada masalah. Walaupun memang biaya pengiriman barang itu meningkat," jelasnya. Meski fokus memperluas pasar luar negeri, MAXI tetap memberikan perhatian besar terhadap pasar domestik. Manajemen menilai permintaan produk makanan ringan perusahaan di dalam negeri masih menunjukkan tren yang positif. Karena itu, perusahaan berencana meluncurkan berbagai varian produk yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen lokal guna memperkuat penetrasi pasar domestik. Saat ini, MAXI memiliki dua lini bisnis utama, yakni produk mentah dan produk siap konsumsi. Untuk mendukung kegiatan produksi, perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas manufaktur yang berlokasi di Sentul, Bogor dan Kendal, Jawa Tengah.
Dua pabrik di Kawasan Industri Sentul masing-masing memiliki kapasitas produksi sebesar 120 ton per bulan dan 130 ton per bulan. Sementara itu, fasilitas produksi di Kawasan Industri Kendal memiliki kapasitas yang jauh lebih besar, yakni mencapai 800 ton per bulan.
Guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional, MAXI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 10,22 miliar pada tahun ini. Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp 7,12 miliar akan digunakan untuk pengembangan pabrik di Kendal, sedangkan Rp 3,1 miliar dialokasikan bagi fasilitas produksi di Sentul. Namun demikian, kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I-2026 masih menghadapi tekanan. Penjualan neto MAXI tercatat sebesar Rp 36,53 miliar, turun 5,9% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 38,85 miliar. Dari sisi profitabilitas, perseroan juga mencatatkan pembalikan kinerja. MAXI membukukan rugi bersih sebesar Rp 8,41 miliar pada kuartal I-2026, berbanding terbalik dengan laba bersih Rp 2 miliar yang diraih pada kuartal I-2025. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News