Maximus Sebut Inflasi Medis Jadi Salah Satu Faktor Penekan Kinerja Asuransi Kesehatan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) atau Maximus Insurance menyampaikan inflasi medis menjadi salah satu faktor utama yang membuat kinerja lini asuransi kesehatan terkendala pada 2025.

Direktur Utama Maximus Insurance Jemmy Atmadja mengatakan menyebut tekanan inflasi medis membuat kinerja asuransi kesehatan perusahaan per akhir 2025 belum mencapai target yang ditetapkan baik dari sisi loss ratio maupun profitabilitas underwriting. Sayangnya, dia tak menyebutkan nilai kinerja lini asuransi kesehatan.

"Tekanan inflasi medis berdampak langsung pada peningkatan biaya klaim secara konsisten dan progresif," katanya kepada Kontan, Senin (2/3).


Meskipun demikian, Jemmy menerangkan inflasi medis bukan satu-satunya faktor. Dia bilang ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi kinerja, antara lain kompetisi premi yang agresif di pasar.

Baca Juga: Adira Finance (ADMF) Catatkan Laba Rp 1,54 Triliun pada 2025

Jemmy menyampaikan saat ini persaingan masih banyak bertumpu pada harga (price-driven competition), yang mana sebagian perusahaan belum sepenuhnya memasukkan proyeksi inflasi medis secara realistis dalam struktur premi.

Selain itu, adanya faktor underpricing historis pada beberapa portofolio, yakni terdapat premi yang secara aktuaria kurang mencerminkan tren kenaikan biaya layanan kesehatan. Ditambah, faktor adverse selection dan utilisasi tinggi sehingga peningkatan frekuensi dan severity klaim juga menjadi kontributor tekanan terhadap loss ratio.

"Perubahan pola klaim pascapandemi Covid-19 juga menjadi faktor lain. Terdapat kenaikan klaim penyakit kritis dan rawat inap tertentu yang sebelumnya tertunda," ucapnya.

Di sisi lain, Jemmy menyampaikan memasukkan komponen inflasi medis secara penuh ke dalam pembentukan premi memang akan meningkatkan tarif secara signifikan. Dia bilang risiko strategisnya adalah potensi kehilangan peluang bisnis, terutama untuk segmen yang sensitif terhadap harga. 

"Oleh karena itu, perusahaan perlu mencari keseimbangan antara adequate pricing dan market competitiveness, agar tetap mendapatkan bisnis yang sehat tanpa mengorbankan sustainability jangka panjang," tuturnya.

Ke depan, Jemmy menyebut pihaknya akan melakukan pendekatan yang lebih komprehensif, antara lain penyesuaian premi berbasis data aktuaria dan tren klaim riil, selektivitas underwriting yang lebih ketat, optimalisasi pengelolaan provider dan cost containment, re-design produk, serta monitoring portofolio secara berkala untuk menjaga loss ratio tetap dalam risk appetite perusahaan. Dengan langkah-langkah tersebut, dia berharap portofolio asuransi kesehatan dapat bergerak menuju kinerja yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai tantangan yang dialami asuransi kesehatan memang terasa berat belakangan ini, seiring masih tingginya medical inflation atau inflasi medis. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan hal itu juga memengaruhi premi yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada perusahaan reasuransi untuk cover risiko di lini asuransi kesehatan.

"Akibat dari medical inflation di depan (perusahaan asuransi), mendorong adanya peningkatan harga yang cukup signifikan dibayar. Otomatis premi ke reasuransinya juga menjadi bertambah," ungkapnya dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (20/2).

Budi menambahkan akibat inflasi medis juga membuat pendapatan premi yang diperoleh tak sebanding dengan klaim yang dibayarkan. Alhasil, ada perusahaan asuransi umum yang mundur menjual asuransi kesehatan, sehingga premi asuransi kesehatan industri juga terkontraksi 20,9% secara Year on Year (YoY).

"Jadi, memang dibanding tahun lalu, penurunan terjadi karena ada perusahaan asuransi yang sudah tidak menjamin lagi asuransi kesehatan. Dengan demikian, angkanya secara signifikan memengaruhi terhadap pertumbuhan," ucapnya.

Berdasarkan data AAUI, rasio klaim asuransi kesehatan di asuransi umum sebesar 67,3% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan per akhir 2024 yang sebesar 58,2%. 

Baca Juga: Dapen BCA Fokus Jaga Stabilitas Portofolio di Tengah Tekanan Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News