KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi buy saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) namun memangkas target harga saham BBRI menjadi Rp3.900 dari sebelumnya Rp 4.300 per sahanm. Langkah ini dilakukan seiring revisi proyeksi kinerja ke depan yang lebih konservatif. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dalam riset 24 Juni 2026 menyebut penyesuaian target ini didasarkan pada valuasi baru sebesar 1,8 kali price to book value (P/BV) untuk estimasi tahun buku 2026. Revisi juga diikuti dengan pemangkasan proyeksi laba bersih BBRI tahun 2026 sebesar 2% menjadi Rp 58,7 triliun. Menurutnya, tekanan berasal dari pandangan yang lebih hati-hati terhadap margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) dan kualitas aset di tengah kondisi suku bunga tinggi serta likuiditas yang semakin ketat.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Berpeluang Rebound Terbatas pada Kamis (25/6), Ini Sentimennya Namun demikian, Jeffrosenberg menilai pelemahan harga saham dalam beberapa waktu terakhir telah banyak merefleksikan tekanan tersebut, sementara imbal hasil dividen (dividend yield) masih menjadi daya tarik utama. “Kami tetap buy pada BBRI, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp 3.900 dari Rp 4.300. Koreksi harga saham baru-baru ini telah meng- price in sebagian besar tekanan, sementara dividend yield tetap menarik,” tulis Jeffrosenberg. Dari sisi margin, Maybank menurunkan proyeksi NIM BBRI tahun 2026 menjadi 7,4% dari sebelumnya 7,5%. Tekanan terutama berasal dari kenaikan biaya dana (cost of fund) yang diperkirakan meningkat lebih cepat dibandingkan penyesuaian imbal hasil aset. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya imbal hasil Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta potensi penarikan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di BBRI jika tidak diperpanjang pada September 2026. Meski kredit masih dapat mengalami
repricing, ruang kenaikannya dinilai terbatas akibat persaingan yang semakin ketat di segmen korporasi. Akibatnya, tekanan biaya dana diperkirakan akan lebih dominan dibandingkan penyesuaian yield aset. Di sisi lain, Maybank juga lebih berhati-hati terhadap kualitas aset. Tekanan inflasi dan harga minyak yang lebih tinggi dinilai berpotensi melemahkan daya beli serta kemampuan bayar debitur, terutama di segmen mikro, kecil, dan menengah yang menjadi inti bisnis BBRI. Dengan eksposur BBRI yang mencapai lebih dari 58% pada segmen tersebut per kuartal I tahun 2026, proyeksi rasio kredit bermasalah (NPL) dinaikkan menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,4%. Proyeksi credit cost juga dinaikkan menjadi 3,0% dari 2,8%. Meski demikian, prospek pertumbuhan laba tetap positif secara moderat. Maybank memperkirakan pertumbuhan laba tahun 2026 sebesar 3,7% secara tahunan dengan return on equity (ROE) tetap kuat di sekitar 18%. Dalam jangka pendek, tekanan kinerja masih membayangi. Namun valuasi dinilai semakin menarik pasca koreksi harga saham. Pada level saat ini, BBRI diperkirakan menawarkan imbal hasil dividen di atas 10%, yang dipandang menjadi penopang utama hingga 2026–2028. Ke depan, potensi penguatan rupiah, perbaikan likuiditas, atau dukungan kebijakan bagi segmen mikro dapat menjadi katalis positif tambahan bagi prospek saham BBRI.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Akan Rilis Obligasi Rp 2,25 Triliun, Beri Kupon Hingga 10% Hingga akhir 2026, BBRI diperkirakan mengantongi laba bersih Rp 58,74 triliun, naik dari tahun 2025 sebesar Rp 56,65 triliun. Saham BBRI pada Rabu (24/6/2026) ditutup turun 3,44% di Rp 2.810 per saham. Harga BBRI telah turun 7,57% dalam lima hari dan anjlok 22,8% di sepanjang 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News