Mayora Siapkan Diversifikasi Pemasok Gula Antisipasi Gangguan Supply



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) memastikan ketersediaan gula untuk kebutuhan produksi tetap aman meski produksi gula Thailand diproyeksikan turun sekitar 17% pada 2026/2027.

Manajemen Mayora menyebut produksi gula Thailand diperkirakan turun dari sekitar 12 juta ton menjadi 10 juta ton. Meski demikian, level produksi tersebut dinilai masih berada di kisaran produksi Thailand pada 2024 dan pada saat itu tidak terjadi gangguan terhadap pasokan gula.

"Produksi gula Thailand diprediksi turun sekitar 17%, dari sekitar 12 juta ton menjadi 10 juta ton. Namun, angka tersebut kurang lebih sama dengan produksi Thailand pada 2024, dan saat itu tidak ada masalah dalam pasokan gula," ujar manajemen Mayora kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).


Dari sisi Mayora, kebutuhan gula untuk produksi berasal dari pasokan lokal maupun impor. Untuk produk yang dipasarkan di dalam negeri, Mayora menggunakan gula lokal yang saat ini dinilai memiliki ketersediaan cukup baik.

Baca Juga: Strategi Mayora Indah (MYOR) Tetap Optimistis di Semester II-2026

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan produksi produk ekspor, Mayora memanfaatkan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Manajemen menyebut kuota fasilitas tersebut telah diamankan untuk kebutuhan tahun 2026.

Dengan kondisi tersebut, Mayora menilai pasokan gula untuk kebutuhan produksi tahun depan masih berada dalam kondisi aman. Perseroan juga belum melihat adanya risiko terhadap ketersediaan bahan baku gula.

"Untuk produk domestik, kami menggunakan gula lokal dan saat ini pasokannya cukup baik. Sementara untuk produk ekspor, kami memanfaatkan fasilitas KITE yang mana kuotanya sudah diamankan untuk tahun 2026," jelas manajemen.

Di sisi lain, kenaikan harga gula global sejauh ini belum memberikan tekanan signifikan terhadap biaya produksi Mayora. Manajemen menyebut kondisi tersebut ditopang oleh kontrak pasokan yang telah dimiliki perusahaan.

Namun, apabila harga gula terus meningkat dan bertahan pada level tinggi, kenaikan tersebut berpotensi mulai berdampak terhadap biaya produksi.

"Sejauh ini kenaikan harga gula belum memberikan dampak yang signifikan karena kami memiliki kontrak pasokan. Namun, apabila harga gula terus naik dan bertahan di level yang tinggi, tentunya akan mulai memberikan dampak terhadap biaya produksi," ungkap manajemen.

Baca Juga: Harga Kemasan Plastik Meningkat, Begini Strategi Mayora Indah (MYOR)

Terkait potensi penyesuaian harga jual produk maupun perubahan formulasi produk, Mayora menyebut keputusan tersebut akan mempertimbangkan pergerakan harga komoditas lainnya. Pasalnya, gula hanya menjadi salah satu dari sejumlah bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.

Mayora juga menilai pasokan gula di Indonesia masih berpotensi tetap aman. Thailand diperkirakan masih menghasilkan sekitar 10 juta ton gula, sementara kebutuhan domestiknya sekitar 2 juta ton.

Indonesia sendiri disebut menjadi salah satu pasar ekspor utama gula Thailand. Karena itu, Mayora melihat Indonesia tetap menjadi pasar penting bagi Thailand di tengah penurunan produksi.

Meski demikian, perusahaan tetap menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi gangguan pasokan. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi pemasok ke negara lain.

Manajemen menyebut sumber pasokan alternatif dapat berasal dari Australia, Brasil, India, maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pemilihan sumber pasokan akan mempertimbangkan tingkat harga yang paling kompetitif.

"Kalaupun ada gangguan supply, kami akan melakukan diversifikasi pemasok, yang mana sumber pasokan kita alihkan ke negara lain. Itu tergantung dari yang paling kompetitif," kata manajemen.

Baca Juga: Mayora (MYOR) Bidik Laba Rp 3,41 Triliun di 2026: Efisiensi & Ekspor Jadi Kunci Utama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News