KONTAN.CO.ID - Mayoritas lembaga keuangan global (
brokerage) memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat kebijakan yang berakhir pekan ini. Namun, semakin banyak analis yang mulai melihat peluang bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga akibat lonjakan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: Malaysia Pertimbangkan Batasi Operasi UNHCR karena Persoalan Pengungsi Rohingya Mengutip
Reuters, Selasa (28/7/2026), kenaikan harga minyak dipicu memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus US$ 100 per barel pekan lalu sebelum akhirnya terkoreksi. Lonjakan harga energi tersebut dikhawatirkan dapat membuat inflasi tetap bertahan di atas target 2% The Fed sehingga bank sentral AS perlu mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Meski demikian, sebagian besar broker besar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Data pasar menunjukkan, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat yang berakhir Rabu mencapai sekitar 33%, naik tajam dibandingkan sekitar 10% dua pekan lalu.
Baca Juga: Negara Teluk Dukung Usulan Iran Tarik Iuran Sukarela di Selat Hormuz Mayoritas prediksi suku bunga tetap Sejumlah lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, J.P. Morgan, Barclays, HSBC, Nomura, UBS Global Wealth Management, UBS Global Research, Wells Fargo, Standard Chartered, dan Societe Generale memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga tahun ini. Mereka memperkirakan suku bunga acuan The Fed tetap berada di kisaran 3,50%–3,75% hingga akhir 2026. Sementara itu, Citigroup menjadi salah satu lembaga yang masih memperkirakan The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada 2026. Citigroup memproyeksikan pemangkasan total 50 basis poin melalui dua kali penurunan suku bunga, masing-masing pada Oktober dan Desember 2026, sehingga suku bunga berada di kisaran 3,00%–3,25%.
Baca Juga: Industri Judi Olahraga Gelontorkan US$ 72 Juta untuk Pemilu Paruh Waktu AS Broker hawkish bertambah Di sisi lain, sejumlah broker mulai mengadopsi pandangan yang lebih hawkish. BofA Global Research menjadi yang paling agresif dengan memproyeksikan tiga kali kenaikan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember. Jika terealisasi, suku bunga The Fed diperkirakan berada di kisaran 4,25%–4,50%. Deutsche Bank memperkirakan, dua kali kenaikan suku bunga pada September dan Desember sehingga suku bunga mencapai 4,00%–4,25%.
Sementara itu, BNP Paribas memprediksi satu kali kenaikan suku bunga pada Desember menjadi 3,75%–4,00%, sedangkan Macquarie memperkirakan kenaikan suku bunga pada kuartal IV 2026 yang membawa suku bunga ke kisaran yang sama.
Baca Juga: Bursa Asia Anjlok ke Level Terendah Tiga Bulan, Rupiah Dekati Rekor Terlemah Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, terutama setelah lonjakan harga minyak memperbesar risiko inflasi kembali menguat. Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat The Fed beserta proyeksi ekonomi dan pernyataan bank sentral untuk memperoleh petunjuk mengenai arah suku bunga pada sisa tahun ini.