Mayoritas Kinerja Keuangan Emiten LQ45 Catat Kinerja Positif di Tahun 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten LQ45 berhasil mencetak kinerja keuangan yang positif pada 2025, terutama dari sisi laba bersih.

Berdasarkan catatan Kontan, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan kenaikan laba bersih tertinggi, yakni melonjak 767,16% menjadi US$ 489,8 juta pada 2025, dari US$ 56,48 juta pada tahun sebelumnya. 

Selanjutnya, ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang meraih lonjakan laba bersih sebesar 126,8% menjadi Rp 7,64 triliun di tahun 2025, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,36 triliun.


Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengungkapkan mayoritas emiten LQ45 mencatatkan kinerja positif karena ditopang oleh fundamental yang solid, konsumsi domestik yang stabil, serta efisiensi operasional. 

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Bagaimana Prospek Kinerja Emiten Migas pada 2026?

Selain itu, harga komoditas yang masih relatif tinggi turut menjaga kinerja sektor energi dan tambang. Namun, kinerja tersebut belum sepenuhnya tercermin di harga saham akibat arus keluar dana asing dan tingginya suku bunga global.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menjelaskan bahwa Bursa mengelompokkan indeks LQ45 berdasarkan saham dengan likuiditas tinggi dengan kapitalisasi pasar besar dan fundamental yang baik.

Jadi wajar jika saham yang tergabung dalam indeks LQ45 memiliki kinerja keuangan yang solid pada tahun 2025, meskipun tidak mencangkup semua sektor. Misalnya, sektor metal mining didorong oleh kenaikan harga emas. Selain itu, sektor lainnya cenderung mengalami pertumbuhan moderat.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menambahkan kinerja emiten LQ45 pada 2025 tumbuh positif didorong kombinasi pertumbuhan volume, perbaikan margin, serta low base effect dari 2024. 

Prospek Emiten LQ45 di Tahun 2026

Elandry memperkirakan prospek emiten LQ45 di tahun 2026 mengalami rebound terbatas dan sangat selektif, dengan katalis dari potensi stabilisasi suku bunga global, kondisi ekonomi domestik yang relatif terjaga, serta peluang kembalinya aliran dana asing ke saham big caps.

"Namun, outlook tersebut masih dibayangi sejumlah risiko, seperti ketidakpastian arah suku bunga global yang masih tinggi, tekanan inflasi akibat kenaikan harga, serta eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi meluas. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting yang akan mempengaruhi arus modal asing," kata Elandry belum lama ini.

Baca Juga: Kinerja Reksadana Tertekan di Maret tapi Peluang Rebound Masih Terbuka

Sementara itu, Ratih menambahkan hingga akhir Maret 2026, indeks LQ45 diperdagangkan pada level 9,7 kali P/E dan 1,3 kali PBV di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir. 

Dari sisi kinerja, indeks LQ45 mencatat penurunan sebesar 15,45% secara year-to-date (ytd), sejalan dengan pelemahan IHSG sebesar minus 18,49% (ytd) hingga akhir Maret 2026. Koreksi ini didorong oleh faktor arus dana, tercermin dari outflow investor asing sebesar Rp 27,66 triliun hingga Selasa (31/3). 

"Saham-saham Big Banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual asing signifikan hingga akhir Maret 2026," ujar Ratih.

Beberapa faktor utama yang mendorong outflow, depresiasi nilai tukar rupiah, potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global, isu terkait transparansi kebijakan, penurunan outlook surat utang, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kenaikan harga energi.

Dalam jangka pendek, terdapat katalis positif yang dapat menopang daya tarik sektor perbankan, khususnya melalui pembagian dividen. Emiten perbankan dijadwalkan melaksanakan RUPST, seperti BMRI (29 April) dan BBRI (10 April), dengan estimasi dividend yield masing-masing 8,1% dan 5,7%.

Baca Juga: Tekanan Global Memicu Outflow, Simak Strategi Menata Ulang Portofolio pada April

Di luar sektor keuangan, dinamika global turut membuka peluang di sektor komoditas. Harga minyak Brent mencapai US$ 107 per barel atau naik 78% (YtD) dan harga batu bara Newcastle US$ 139 per ton atau meningkat 31% (YtD).

Sementara itu, sektor metal mining, khususnya nikel, juga menunjukkan prospek menarik dalam jangka menengah dengan harga stabil di US$ 17.200 per ton hingga awal April 2026.

Kebijakan pemerintah untuk memangkas kuota produksi nikel dalam RKAB 2026 menjadi 150 juta ton per tahun dari sebelumnya 364 juta ton pada 2025 mendukung terjaganya supply dan harga jual rata-rata.

Adapun Liza berpendapat memasuki 2026, kinerja LQ45 masih berpotensi tumbuh namun dengan tingkat selektivitas lebih tinggi. Secara makro ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dijaga di kisaran 5%, tetapi tekanan eksternal membuat suku bunga tetap relatif tinggi dengan BI Rate di 4,75% dan nilai tukar sensitif. 

"Ditambah lagi, risiko dari harga energi global dan geopolitik membuat pasar cenderung tidak memberikan premium secara merata. Dalam kondisi ini, emiten dengan visibilitas laba yang jelas dan cash flow stabil akan lebih diunggulkan," tambah Liza.

Rekomendasi Saham

Ratih membagikan sejumlah rekomendasi saham yang menarik untuk dicermati:

1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI

Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 4.800 serta pertimbangkan support di level Rp 4.600.

2. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)

Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 11.400 serta pertimbangkan support di level Rp 10.200.

3. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)

Rekomendasi: Buy dengan target harga pada resistance di level Rp 1.200 serta pertimbangkan support di level Rp 1.080.

Sementara itu, Elandry juga menyarankan sejumlah perusahaan tercatat, antara lain:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 7.500-Rp 8.000

Stoploss: Di bawah Rp 6.100

2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 5.400-Rp 5.800

Stoploss: Di bawah Rp 4.400

3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.900-Rp 4.300

Stoploss: Di bawah Rp 3.050

4. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 8.200-Rp 8.800

Stoploss: Di bawah Rp 6.700

5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.900-Rp 4.300

Stoploss: Di bawah Rp 3.100

6. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)

Rekomendasi: Buy dengan target harga Rp 3.000-Rp 3.300

Stoploss: Rp 2.200

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News