KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026). Di antara mata uang kawasan, rupiah Indonesia menjadi salah satu yang mencatatkan pelemahan paling dalam.
Baca Juga: Laba NAB Semester I 2026 Meleset, Risiko Konflik Timur Tengah Membayangi Melansir
Reuters berdasarkan data perdagangan pukul 02.07 GMT, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.340 per dolar AS, melemah 0,20% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.305 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Yen Jepang turun tipis 0,05% ke level 157,11 per dolar AS dan baht Thailand melemah 0,18% ke 32,51 per dolar AS. Peso Filipina juga terkoreksi 0,18% ke level 61,397 per dolar AS. Di sisi lain, beberapa mata uang mencatat penguatan terbatas. Won Korea Selatan naik 0,30% ke 1.473,10 per dolar AS, diikuti ringgit Malaysia yang menguat 0,30% ke 3,955 per dolar AS. Dolar Taiwan juga menguat 0,19% ke 31,588 per dolar AS.
Baca Juga: Yen Menguat Tipis Senin (4/5) Pagi, Pasar Waspadai Aksi Lanjutan Otoritas Jepang Secara tahunan sejak awal 2026, mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tren pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 3,86% dibandingkan posisi akhir 2025 di Rp16.670 per dolar AS.
Pelemahan lebih dalam dialami oleh rupee India yang turun sekitar 5,31%, peso Filipina 4,23%, dan baht Thailand 3,26% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, beberapa mata uang justru menguat terhadap dolar AS sejak awal tahun. Ringgit Malaysia terapresiasi sekitar 2,55%, diikuti yuan China yang naik 2,30%, serta dolar Singapura yang menguat 0,97%.
Baca Juga: Samsung Tunjuk Bos Baru Divisi TV di Tengah Gempuran Produsen China Pergerakan mata uang kawasan masih dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung ketat.