Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Rabu (14/10), Bagaimana Nasib Rupiah?



KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (14/10/2026).

Di tengah tekanan tersebut, won Korea Selatan justru menguat, sedangkan rupiah kembali bergerak melemah.

Mengutip data Reuters pada pukul 02.10 GMT, rupiah berada di level Rp 17.910 per dolar AS, melemah 0,14% dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.885 per dolar AS.


Baca Juga: Trump Mengklaim Taiwan Sepakat Membeli 30% LNG dari Proyek Pipa Alaska

Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Dolar Taiwan melemah 0,26% menjadi 32,170 per dolar AS, yen Jepang terkoreksi 0,04% ke level 158,350 per dolar AS, dan dolar Singapura turun 0,05% menjadi 1,280 per dolar AS.

Peso Filipina melemah 0,06% ke level 62,759 per dolar AS, sedangkan baht Thailand turun tipis 0,03% menjadi 33,550 per dolar AS.

Yuan China juga terkoreksi 0,01% ke level 6,692 per dolar AS. Sementara itu, rupee India bergerak stabil di level 95,280 per dolar AS.

Berbeda dari mayoritas mata uang kawasan, won Korea Selatan menguat 0,33% menjadi 1.336,600 per dolar AS. Ringgit Malaysia juga menguat 0,10% ke level 4,080 per dolar AS.

Secara kumulatif sepanjang 2026, rupiah masih mencatat pelemahan sebesar 6,92% dibandingkan posisi akhir 2025 di level Rp 16.670 per dolar AS.

Baca Juga: Sempat Tertunda, Jembatan China-Korea Utara Akan Dibuka 15 Oktober

Pelemahan rupiah tersebut lebih dalam dibandingkan yen Jepang yang terkoreksi 1,07%, ringgit Malaysia yang melemah 0,59%, serta rupee India yang turun 5,68% sepanjang tahun berjalan.

Di antara mata uang yang tercantum, won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar sepanjang tahun berjalan, yakni 7,77%. Yuan China juga menguat 4,42%, sedangkan dolar Singapura naik 0,43% terhadap dolar AS.

Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap data inflasi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Selain itu, tingginya harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi inflasi dan arus modal global.