Mayoritas Mata Uang Asia Melemah terhadap Dolar AS Rabu (8/7), Won Jadi Pengecualian



KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026), dengan ringgit Malaysia dan peso Filipina mencatat pelemahan terdalam.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang masih mampu menguat.

Baca Juga: KTT NATO Dibayangi Kritik Trump, Eropa Berupaya Jaga Soliditas Aliansi


Melansir Reuters berdasarkan data hingga pukul 02.05 GMT, ringgit Malaysia melemah 0,32% terhadap dolar AS, menjadi penurunan harian terbesar di kawasan.

Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 0,22%, diikuti baht Thailand yang turun 0,18%, yen Jepang melemah 0,16%, rupiah Indonesia terkoreksi 0,11%, yuan China turun 0,10%, dan dolar Singapura melemah 0,08%.

Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 0,25% terhadap dolar AS. Sementara rupee India relatif tidak berubah dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Secara kumulatif sejak awal 2026, hampir seluruh mata uang Asia masih mencatat pelemahan terhadap dolar AS.

Rupiah menjadi mata uang dengan penurunan terdalam, yakni sekitar 7,34% dibandingkan posisi akhir 2025.

Baca Juga: Saham Chip Korea Selatan Rebound Rabu (8/7) Pagi, Investor Manfaatkan Koreksi Harga

Selanjutnya baht Thailand melemah 5,78%, rupee India turun 5,37%, won Korea Selatan terkoreksi 4,79%, peso Filipina melemah 4,47%, yen Jepang turun 3,51%, dolar Taiwan melemah 2,23%, sedangkan dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,60% dan 0,59%.

Berbeda dengan mata uang lainnya, yuan China justru menguat sekitar 2,74% terhadap dolar AS sejak awal tahun ini.

Pergerakan mata uang Asia terjadi di tengah penguatan dolar AS, yang didorong meningkatnya permintaan aset safe haven setelah memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Piala Dunia: 30 Juta Penonton Saksikan Kekalahan AS dari Belgia, Rekor Baru Tercipta

Pasar juga mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve) yang diperkirakan akan tetap ketat di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak.