KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (1/6/2026) pagi, seiring pelaku pasar menanti perkembangan negosiasi perdamaian di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral global. Melansir
Reuters berdasarkan data pukul 02.10 GMT, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan setelah turun 0,67% ke level 1.514,90 won per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di 1.504,80.
Baca Juga: Tesla Batalkan Ancaman Penghentian Kontrak Grafit dengan Syrah Resources Mata uang lain yang turut melemah antara lain peso Filipina yang turun 0,36%, yen Jepang yang melemah 0,13%, dolar Singapura turun 0,10%, serta baht Thailand yang terkoreksi 0,09%. Sementara itu, yuan China melemah tipis 0,02% terhadap dolar AS. Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi salah satu mata uang yang masih menguat dengan kenaikan 0,22%. Adapun rupiah berada di level Rp 17.865 per dolar AS, relatif tidak berubah dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Rupiah Masih Jadi Salah Satu Mata Uang Terlemah Tahun Ini Jika melihat kinerja sepanjang tahun 2026, rupiah masih menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Terkoreksi Senin (1/6), Pasar Tunggu Keputusan Trump soal Iran Sejak awal tahun, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,69% dari posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut lebih dalam dibandingkan won Korea Selatan yang turun 4,98%, peso Filipina yang melemah 4,75%, rupee India yang terkoreksi 5,40%, serta baht Thailand yang turun 3,38%. Sebaliknya, beberapa mata uang Asia masih mencatat penguatan terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Yuan China menguat sekitar 3,26%, ringgit Malaysia naik 2,35%, dolar Singapura menguat 0,61%, dan dolar Taiwan bertambah 0,39%. Pasar Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Pergerakan mata uang Asia saat ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Baca Juga: Goldman Sachs: Rebalancing Indeks China Berpotensi Picu Arus Dana Pasif US$ 48 Miliar Investor menantikan perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata yang berpotensi memengaruhi harga minyak dunia dan prospek inflasi global. Di saat yang sama, pasar juga mencermati peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) apabila tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi bertahan lebih lama dari perkiraan.