Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Senin (27/7), Won Korsel dan Rupiah Masih Tertekan



KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/7/2026) didominasi penguatan, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan dolar AS.

Namun, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan, sementara rupiah juga masih berada di zona negatif.

Baca Juga: Bursa Korsel Berbalik Turun Senin (27/7), Saham Chip Tertekan Jelang Laporan Keuangan


Melansir Reuters hingga pukul 02.15 GMT, won Korea Selatan melemah 0,54% ke level 1.466,4 won per dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada hari itu.

Rupiah juga melemah 0,19% ke level Rp 17.970 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.935 per dolar AS.

Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,19% ke 163,53 yen per dolar AS, sedangkan dolar Singapura naik 0,11% ke 1,289 per dolar AS.

Baht Thailand menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar, naik 0,42% ke 33,54 baht per dolar AS.

Ringgit Malaysia menguat 0,20% ke 4,080 per dolar AS, sementara yuan China naik tipis 0,03% ke 6,768 per dolar AS.

Peso Filipina melemah 0,06% ke 61,702 per dolar AS, sedangkan dolar Taiwan turun 0,10% ke 32,390 per dolar AS. Rupee India relatif tidak berubah di level 96,563 per dolar AS.

Baca Juga: IPO Terbesar Asia Tahun Ini Sukses Besar, Valuasi CXMT Tembus US$ 487 Miliar

Kinerja sejak awal tahun

Jika dihitung sejak awal 2026, sebagian besar mata uang Asia masih mencatat pelemahan terhadap dolar AS.

Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam, yakni 7,23%, dari posisi akhir 2025 di Rp 16.670 per dolar AS menjadi Rp 17.970 per dolar AS.

Rupee India melemah 6,93%, diikuti baht Thailand yang turun 6,23%.

Yen Jepang terkoreksi 4,21%, sementara peso Filipina melemah 4,70%.

Baca Juga: Bursa Jepang Bergerak Mendatar Senin (27/7), Menanti Musim Laporan Keuangan

Won Korea Selatan turun 1,83%, dolar Taiwan melemah 2,94%, dan ringgit Malaysia turun 0,59%.

Berbeda dengan mata uang Asia lainnya, yuan China justru menguat 3,25% sepanjang tahun ini terhadap dolar AS, dari 6,9879 menjadi 6,768 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan pada periode tersebut.