KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak relatif stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Namun, peso Filipina dan won Korea Selatan mencatat pelemahan di tengah masih kuatnya dolar AS.
Baca Juga: Taiwan Bantah AS Pecah Paket Senjata US$ 14 Miliar Jadi Beberapa Tahap Berdasarkan data
Reuters pada pukul 02.03 GMT, peso Filipina menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar dalam perdagangan hari ini. Peso turun 0,32% ke level 62,762 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 62,561. Won Korea Selatan juga melemah 0,12% menjadi 1.343,28 per dolar AS dari 1.341,64. Baht Thailand turun tipis 0,05% menjadi 33,67 per dolar AS. Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,03% menjadi 1,280 per dolar AS. Rupiah juga bergerak melemah tipis 0,03% ke level Rp 17.900 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.895 per dolar AS. Di sisi lain, dolar Taiwan menguat 0,21% menjadi 31,720 per dolar AS. Ringgit Malaysia juga naik 0,02% ke 4,084 per dolar AS. Yen Jepang bergerak stabil di 157,90 per dolar AS. Rupee India juga nyaris tidak berubah di 96,293 per dolar AS.
Baca Juga: Euro Dekati Level Terendah 17 Bulan, Dolar AS Makin Perkasa Rupiah Masih Tertekan Sepanjang 2026 Jika dihitung sejak akhir 2025, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatat pelemahan cukup besar terhadap dolar AS. Rupiah berada di level Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan Selasa, melemah sekitar 6,87% dibandingkan posisi akhir 2025 di Rp 16.670 per dolar AS. Rupee India mencatat pelemahan 6,67% sejak akhir 2025. Baht Thailand turun 6,59%, sedangkan peso Filipina melemah 6,31%. Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang mencatat perubahan terbesar dibandingkan akhir tahun lalu. Won berada di 1.343,28 per dolar AS, dibandingkan 1.440,51 pada akhir 2025.
Baca Juga: Harga Diesel AS Melonjak, Trump Perluas Akses Solar Bebas Pajak Sementara itu, yuan China menguat 4,22% sepanjang 2026 ke level 6,705 per dolar AS, dari 6,9879 pada akhir tahun lalu. Dolar Taiwan juga menguat 0,89% sepanjang tahun berjalan. Sebaliknya, dolar Singapura melemah 0,47%, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,69%. Pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS, imbal hasil US Treasury, serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global.