KONTAN.CO.ID. Sebagian besar mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (17/4/2026), dengan rupiah mencatat pelemahan paling dalam di kawasan. Tekanan terhadap mata uang regional terjadi di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap arah negosiasi geopolitik di Timur Tengah, meski ada harapan meredanya konflik. Melansir data
Reuters pada perdagangan pagi, nilai tukar Rupiah melemah 0,26% ke level Rp 17.170 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.125.
Di antara mata uang utama Asia lainnya, yen Jepang juga tertekan ke level 159,40 per dolar AS, sementara dolar Singapura dan baht Thailand ikut melemah tipis.
Baca Juga: Paus Leo XIV: Dunia Dikuasai Segelintir Tiran, Perang & Eksploitasi Harus Dihentikan Pergerakan Mata Uang Asia (Intraday)
- Yen Jepang: -0,14%
- Dolar Singapura: -0,05%
- Won Korea: +0,07%
- Baht Thailand: -0,12%
- Peso Filipina: -0,16%
- Rupiah Indonesia: -0,26%
- Ringgit Malaysia: -0,08%
- Yuan China: -0,02%
Jika dibandingkan dengan mata uang utama lainnya, rupiah menjadi yang mencatat pelemahan terdalam di kawasan Asia pada sesi perdagangan tersebut. Tekanan juga terlihat dalam tren tahun berjalan 2026, di mana rupiah telah melemah sekitar 2,9% terhadap dolar AS, sejalan dengan tekanan pada mayoritas mata uang emerging market di Asia.
Baca Juga: Dolar Terkoreksi Mingguan Kedua Jumat (17/4), di Tengah Harapan Redanya Konflik Iran Secara regional, pelemahan juga terjadi pada rupee India, peso Filipina, serta baht Thailand, yang mencerminkan masih kuatnya dolar AS di tengah ketidakpastian global. Penguatan dolar AS didorong oleh sentimen risk-off yang masih bertahan, meskipun ekspektasi meredanya konflik Timur Tengah sempat menekan permintaan aset safe haven. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi mempengaruhi arah harga energi global dan arus modal di pasar negara berkembang.