KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang global terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan arah campuran pada perdagangan Kamis (9/4/2026) seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan moneter dan dinamika global. Melansir data Trading Economics pukul 15.17 WIB, mayoritas mata uang utama terhadap dolar AS melemah. Euro melemah 0,02% terhadap dolar AS ke level 1,16 diikuti pound sterling (GBP/USD) yang melemah 0,05% ke 1,33 serta dolar Australia (AUD/USD) yang terkoreksi 0,27% ke 0,70.
Baca Juga: Matahari Putra Prima (MPPA) Lepas Anak Usaha, Nilai Transaksinya Rp 61,64 Miliar Sebaliknya, dolar Selandia Baru (NZD/USD) justru menguat 0,14% ke 0,58. Di saat yang sama, dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang (USD/JPY) 0,31% ke 159,06 dan terhadap franc Swiss (USD/CHF) 0,01% ke 0,79. Research & Development ICDX, Tiffani Safinia menilai pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang melemah sebesar 0,08% pada hari ini lebih mencerminkan fase konsolidasi jangka pendek, bukan pelemahan struktural. "Tekanan terhadap dolar AS dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) serta penyempitan diferensial suku bunga global," ujar Tiffani kepada Kontan, Kamis (9/4/2026). Menurut dia, meningkatnya peluang penurunan suku bunga di AS menjadi faktor utama yang menekan dolar, di tengah indikasi perlambatan ekonomi dan mulai melunaknya pasar tenaga kerja. Pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi sentimen geopolitik, kondisi makroekonomi, serta arah kebijakan fiskal. Namun, perbedaan arah kebijakan antar bank sentral turut mendorong pergeseran aliran modal global. Sementara itu,
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tanpa adanya konflik geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan bank sentral global sebenarnya sudah relatif jelas. Ia menjelaskan, European Central Bank (ECB) cenderung stabil dengan peluang kebijakan yang lebih ketat, sementara The Fed dan Bank of England (BoE) masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga.
Baca Juga: Gelar RUPST, Petrosea (PTRO) Angkat Kembali Pengurus Lama Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) masih menghadapi dilema dalam normalisasi kebijakan, sedangkan Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menjadi salah satu yang paling agresif (
hawkish). “Namun, dinamika konflik geopolitik dapat mengubah asumsi tersebut dan memicu pergeseran arus modal global,” ujar Lukman. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News