KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas mata uang utama melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini di tengah dinamika sentimen global dan ekspektasi kebijakan moneter. Mengutip data Trading Economics pukul 15.17 WIB, mayoritas mata uang utama terhadap dolar AS melemah. Euro (EUR/USD) melemah 0,02% ke level 1,16 diikuti poundsterling (GBP/USD) yang turun 0,05% ke 1,33 serta dolar Australia (AUD/USD) yang terkoreksi 0,27% ke 0,70.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,39% ke 7.307 pada Kamis (9/4/2026), DSSA, BREN, BRPT Top Gainers LQ45 Sebaliknya, dolar Selandia Baru (NZD/USD) justru menguat 0,14% ke 0,58. Di saat yang sama, dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang (USD/JPY) 0,31% ke 159,06 dan terhadap franc Swiss (USD/CHF) 0,01% ke 0,79. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai dolar Selandia Baru (NZD) dan franc Swiss (CHF) menjadi mata uang yang menarik untuk dicermati saat ini. "NZD menawarkan potensi
carry trade yang menarik jika Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) benar-benar menaikkan suku bunga di bulan Juli," ujar Sutopo kepada Kontan, Kamis (9/4/2026). Sedangkan, CHF tetap menjadi pelindung nilai yang solid, terutama saat inflasi energi di Eropa memanas.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Melemah, Dolar AS Masih Perkasa di Tengah Berbagai Sentimen Ia menambahkan, strategi yang dapat dipertimbangkan investor antara lain diversifikasi ke mata uang berbasis komoditas untuk menangkap momentum pertumbuhan sembari tetap menjaga likuiditas dalam dolar AS guna mengantisipasi risiko geopolitik, termasuk potensi kegagalan gencatan senjata di Timur Tengah.
Sutopo juga menyoroti pendekatan
buy on rumor, sell on fact menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi acuan inflasi The Fed. Sementara itu, Research & Development ICDX, Tiffani Safinia melihat peluang pada sejumlah mata uang non-dolar seperti euro, poundsterling, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru. "Strategi yang dapat dilakukan antara lain diversifikasi ke aset non-dolar, serta menanti arah kebijakan moneter global, khususnya selama ekspektasi
dovish terhadap The Fed masih mendominasi pasar," kata Tiffani. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News