Mayoritas saham ARTO diserap investor ritel



JAKARTA. PT Bank Artos Indonesia resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ARTO. Sebagian besar saham perseroan diserap oleh investor ritel 74,76%.

Deddy Triyana, Sekretaris Perusahaan ARTO mengatakan, penawaran umum perdana yang dilakukan perseroan direspon positif oleh masyarakat yang tercermin dari serapan investor ritel yang cukup besar.

"Sedangkan serapan investor korporasi hanya 25,24%," katanya usai pencatatatan saham perdana ARTO, Selasa (12/1).


Deddy mengatakan, selama masa book building terjadi kelebihan permintaan (oversubcribed) sebanyak 2,27 kali. Total permintaan yang datang mencapai 547,5 juta lembar saham sedangkan jumlah saham yang ditawarkan hanya 241,2 juta.

Bank Artos merupakan emiten pertama yang terdaftar di BEI tahun ini. Saham ARTO dibuka dengan harga Rp 145 per saham.

Bank Artos akan melepas sebanyak-banyaknya 241.250.000 lembar saham baru atau sekitar 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp 132 per saham. Dengan begitu, perseroan akan mengantongi dana sebesar Rp 31,84 miliar.

Sebesar 14% dana IPO tersebut akan digunakan untuk pengembangan teknologi sistem informasi (TSI) dan 86% akan digunakan untuk modal penyaluran kredit.

PT Erdikha Elit Sekuritas dan PT Binaarta Parama bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi IPO tersebut.

Setelah IPO, ARTO menargetkan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), Net Interest Margin (NIM) dan penyaluran kredit tumbuh masing-masing bisa mencapai 20% setiap tahunnya. Dedi mengatakan saat ini, perseroan masih lebih fokus melayani sektor UMKM dengan porsi sampai 70% dan 30% sisanya dari korporasi.

Pada tahun 2018 total aset Bank Artos ditargetkan mencapai Rp 1,1 triliun, dana pihak ketiga Rp 825,9 miliar dan penyaluran kredit Rp 826,26 miliar. Seiring dengan pertumbuhan tersebut laba bersih kita targetkan tumbuh di atas 110% mencapai Rp 10,8 miliar.

Untuk tahun pertama pasca IPO, Reinantha Yaputra, Direktur Utama ARTO mengatakan pertumbuhan laba bersih belum terlalu akan signifikan. Laba bersih tahun ini diperkirakan masih akan mencapai sekitar Rp 1,3 miliar. " Pertumbuhan signifikan baru akan terjadi pada 2017," katanya.

Sepanjang tahun 2014, Bank Artos memncatatkan laba bersih Rp 1,13 miliar. Sementara, per Juni 2015, laba bersih perusahaan yang berbasis di Bandung ini baru mencapai Rp 552 juta.

Pada tahun 2018, Bank Artos menargetkan bisa menghimpun DPK hingga Rp 229 miliar dan menyalurkan kredit sebesar Rp 465 miliar. Untuk mencapai target tersebut, tahun ini perseroan akan mulai fokus menggandeng mitra. "Tahun ini kita akan manfaatkan jaringan kemitraan untuk mendorong pertumbuhan" kata Deddy.

Pangsa pasar penyaluran kredit Bank Artos saat ini adalah UMKM di sektor perdagangan. Namun ke depan, calon emiten ini akan menggarap pasar di sektor infrastruktur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News