Media Resmi Iran: 3.117 Orang Tewas dalam Aksi Protes



KONTAN.CO.ID - Media resmi Iran pada Rabu (21/1/2026) melaporkan sebanyak 3.117 orang tewas dalam gelombang aksi protes yang pecah sejak akhir Desember lalu. Namun, kelompok aktivis menilai aksi tersebut ditumpas melalui penindakan brutal yang memakan banyak korban jiwa.

Channel News Asia melaporkan, dalam pernyataan Yayasan Veteran dan Martir Iran yang dikutip televisi pemerintah, disebutkan bahwa dari jumlah tersebut, 2.427 orang, termasuk anggota aparat keamanan, dianggap sebagai “martir” menurut ajaran Islam dan disebut sebagai korban tidak bersalah.

Otoritas ulama Iran mengecam gelombang protes itu dengan menyebutnya sebagai insiden teroris yang ditandai oleh “kerusuhan” dan dituding dipicu oleh Amerika Serikat. Setelah penindakan berdarah tersebut, Menteri Luar Negeri Iran mengeluarkan ancaman paling keras sejauh ini terhadap AS, dengan memperingatkan bahwa Republik Islam Iran akan membalas dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki jika kembali diserang.


Kelompok pembela HAM menyatakan ribuan demonstran yang menuntut perubahan tewas akibat tembakan langsung dari aparat keamanan.

LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia menyebut telah memverifikasi kematian 3.428 demonstran yang ditembak oleh pasukan keamanan. Namun, IHR memperingatkan angka itu kemungkinan hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya. Bahkan, menurut sejumlah perkiraan, antara 5.000 hingga 20.000 demonstran mungkin telah tewas.

Baca Juga: Masa Depan Greenland: Trump Tegaskan Tak Pakai Menggunakan Militer, Denmark Waswas

Meski demikian, seluruh lembaga pemantau korban menyatakan upaya untuk mendapatkan angka pasti sangat terhambat oleh pemadaman internet yang masih diberlakukan pemerintah Iran. Menurut pemantau jaringan Netblocks, pemadaman tersebut telah berlangsung lebih dari 300 jam.

“Upaya menutupi kebenaran akan terdokumentasi secara real time. Dunia sedang menyaksikan,” ujar Netblocks terkait pemutusan internet yang disebut bertujuan menyembunyikan skala penindakan keras tersebut.

Dalam pernyataannya, Yayasan Veteran dan Martir juga menyebut bahwa banyak dari para martir adalah warga sipil yang tewas tertembak saat aksi berlangsung.

Yayasan itu juga mengklaim bahwa sebagian korban adalah demonstran yang ditembak oleh elemen teroris terorganisir di tengah massa, tanpa menyertakan bukti atau penjelasan rinci.

Kelompok HAM, termasuk Amnesty International, menuduh aparat keamanan secara sengaja menargetkan demonstran dari atap gedung, serta menembak mata para peserta aksi.

Tonton: CEO Global Siap Sambut Trump di Davos

Sementara itu, Yayasan Veteran dan Martir mengecam apa yang mereka sebut sebagai “tangan licik musuh-musuh Iran”, dan menuding para pemimpin Amerika Serikat telah “mendukung, melengkapi, dan mempersenjatai” pihak-pihak yang melakukan kekerasan.

Selanjutnya: Ancaman Rupiah Sentuh 17.000 Hanya Sesat, Ini Kata Ekonom