Mediator Berupaya Jembatani Perbedaan AS–Iran Meski Tanpa Pertemuan Tatap Muka



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Upaya untuk menjembatani kesenjangan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih terus berlangsung melalui peran mediator Pakistan, meski tidak ada lagi diplomasi tatap muka setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya pada akhir pekan lalu.

Sumber dari pihak Iran menyebutkan bahwa Tehran mengajukan proposal baru yang mengusulkan agar pembahasan program nuklir Iran ditunda hingga perang berakhir dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan. Namun, usulan tersebut diperkirakan sulit diterima Washington yang menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi prioritas utama sejak awal perundingan.

Diplomasi yang sempat diharapkan dapat dipulihkan kembali mengalami kemunduran setelah pembatalan kunjungan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, tempat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya melakukan perjalanan bolak-balik untuk pembicaraan tidak langsung.


Baca Juga: Enam Kapal Tanker Minyak Iran Dipaksa Kembali di Tengah Blokade AS di Selat Hormuz

Araqchi juga mengunjungi Oman dan Rusia dalam rangkaian diplomasi regional, termasuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan dukungan terhadap Iran sebagai sekutu lama.

Harga minyak naik dan ketegangan meningkat

Ketidakpastian geopolitik membuat harga minyak kembali melonjak. Brent crude tercatat naik sekitar 3,5% ke level US$108,8 per barel pada perdagangan Senin sore waktu global.

Sengketa utama masih berpusat pada program nuklir Iran serta akses pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi salah satu titik krusial perdagangan energi dunia.

Trump kembali menegaskan bahwa Iran harus menghentikan ambisi senjata nuklirnya jika ingin bernegosiasi, sementara Iran menuduh AS belum mencapai tujuan militernya dan mencoba membuka ruang negosiasi karena tekanan yang meningkat.

Proposal Iran: perundingan bertahap

Menurut sumber Iran, proposal terbaru Tehran mencakup pendekatan bertahap:

  1. Penghentian perang AS-Israel melawan Iran
  2. Jaminan bahwa AS tidak akan melanjutkan serangan
  3. Penyelesaian blokade dan status Selat Hormuz
  4. Baru kemudian membahas isu nuklir
  5. Iran juga menegaskan tetap ingin pengakuan atas hak pengayaan uranium untuk tujuan damai.
Situasi di kawasan Teluk semakin memburuk. Iran dilaporkan membatasi hampir seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kecuali untuk kepentingannya sendiri, sementara AS mulai melakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran.

Baca Juga: Putin Janjikan Perdamaian untuk Iran di Tengah Konflik Memanas

Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 125–140 kapal per hari, namun kini hanya sekitar tujuh kapal yang melintas, tanpa membawa minyak untuk pasar global.

Data pelacakan kapal menunjukkan enam tanker minyak Iran terpaksa kembali akibat blokade AS, sementara aktivitas perdagangan energi global terganggu parah.

Ketegangan meluas ke Lebanon

Di sisi lain, konflik juga meningkat di Lebanon. Serangan udara Israel dilaporkan menewaskan 14 orang dan melukai 37 lainnya di wilayah selatan, menjadikannya hari paling mematikan sejak gencatan senjata yang dimediasi AS pada pertengahan April.

Iran menyatakan tidak akan melanjutkan perundingan konflik yang lebih luas jika gencatan senjata di Lebanon tidak dihormati. Israel dan kelompok Hizbullah saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut.

Meski terdapat upaya komunikasi jarak jauh melalui Pakistan, belum ada rencana pertemuan langsung dalam waktu dekat. Islamabad sebelumnya bahkan sempat menutup sejumlah lokasi untuk persiapan perundingan yang akhirnya tidak terlaksana.

Para analis menilai kedua pihak kini sedang memasuki “uji ketahanan”, dengan masing-masing pihak menunggu siapa yang lebih dulu menyerah di tengah tekanan ekonomi dan militer yang meningkat.

Sementara itu, krisis ini telah memicu kenaikan harga minyak, inflasi global, serta memburuknya prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: Thailand Garap Proyek Land Bridge, Tantang Dominasi Selat Malaka