KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Risiko siber masih menjadi tantangan utama bagi industri perasuransian di tengah meningkatnya digitalisasi layanan keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mengingatkan bahwa ancaman serangan siber terus berkembang dan dapat berdampak signifikan terhadap operasional perusahaan asuransi. Sejalan dengan itu, PT Asuransi Umum Mega (Mega Insurance) menilai, penguatan keamanan siber menjadi kebutuhan krusial, tidak hanya bagi industri asuransi, tetapi juga seluruh sektor jasa keuangan.
Baca Juga: Kredit Pinjol Lending Capai Rp 101,03 Triliun per Maret 2026, Naik 26% Risk, Legal, and Compliance Director Mega Insurance Diang Edelina mengatakan, meningkatnya pemanfaatan teknologi digital turut memperbesar eksposur terhadap risiko siber. “Eksposur risiko mencakup perlindungan data nasabah, sistem operasional, hingga potensi gangguan layanan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (5/5/2026). Menurut Diang, penguatan keamanan siber merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan perhatian serta investasi secara konsisten. Ia menjelaskan, perusahaan telah melakukan berbagai langkah penguatan, mulai dari peningkatan infrastruktur keamanan teknologi informasi (IT), implementasi sistem monitoring dan deteksi dini, hingga penguatan tata kelola serta kebijakan internal terkait keamanan informasi. Selain itu, Mega Insurance juga menyiapkan mekanisme respons insiden yang terstruktur, termasuk evaluasi menyeluruh jika terjadi serangan siber. “Langkah ini untuk mengidentifikasi akar masalah, menutup celah, serta meningkatkan ketahanan sistem ke depan,” jelasnya.
Baca Juga: Laba KB Bank (BBKP) Tembus Rp 10,7 Miliar pada Kuartal I-2026 Di sisi sumber daya manusia, perusahaan juga meningkatkan kesadaran karyawan melalui pelatihan berkala. Pasalnya, faktor manusia menjadi salah satu titik krusial dalam mitigasi risiko siber. Penguatan keamanan juga dilakukan melalui pengelolaan akses sistem, enkripsi data, serta audit berkala guna memastikan kepatuhan terhadap standar dan regulasi. Dari sisi investasi, Diang menyebut perusahaan meningkatkan alokasi belanja modal (
capital expenditure/capex) untuk teknologi informasi pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tetap menjaga efisiensi. Selain memperkuat sistem dan infrastruktur, Mega Insurance juga memanfaatkan solusi berbasis open source yang telah teruji guna mengoptimalkan biaya tanpa mengurangi aspek keamanan. “Pendekatan ini membuat perusahaan tetap adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan investasi dan efisiensi operasional,” imbuhnya.
Baca Juga: Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Maret 2026 Melemah, Penyaluran Pinjaman Turun 5,66% Sebelumnya, Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila mengungkapkan adanya perusahaan asuransi yang terdampak serangan siber, bahkan hingga menyasar
Disaster Recovery Center (DRC). Akibatnya, perusahaan tersebut kehilangan data sehingga tidak dapat menyusun laporan keuangan secara optimal. “Ini menjadi perhatian baru dalam pengembangan sistem teknologi informasi di industri,” ujar Iwan dalam acara PPDP Regulatory Dissemination Day 2026 di Jakarta Selatan, Senin (13/4). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News