KONTAN.CO.ID - Meksiko mengakhiri penantian selama 40 tahun untuk meraih kemenangan di fase gugur Piala Dunia setelah menaklukkan Ekuador dengan skor 2-0 pada babak 32 besar, Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Hasil ini mengantarkan salah satu tuan rumah turnamen itu melaju ke babak 16 besar.
Baca Juga: Haaland Ukir Rekor Gol Bersejarah: Lampaui Messi, Ronaldo, dan Mbappe Sekaligus Kemenangan tersebut menjadi yang pertama bagi Meksiko di fase gugur Piala Dunia sejak mengalahkan Bulgaria pada edisi 1986, saat mereka juga menjadi tuan rumah. Di babak berikutnya, Meksiko akan menghadapi pemenang laga antara Inggris dan Republik Demokratik Kongo. Pelatih Meksiko Javier Aguirre memuji penampilan anak asuhnya, terutama pada babak pertama yang dinilai menjadi kunci kemenangan. "Babak pertama kami bermain sangat baik, lalu pada babak kedua kami mampu tetap tenang. Melihat atmosfer stadion dan kebahagiaan para pendukung, saya yakin ada ikatan yang sangat kuat antara tim dan suporter," ujar Aguirre.
Baca Juga: Ribuan Investor Gugat Binance, Apa Itu Derivatif Kripto yang Dipersoalkan? Pertandingan di Stadion Azteca sempat tertunda selama satu jam akibat badai petir. Namun, cuaca buruk tidak mengurangi antusiasme lebih dari 80.000 pendukung yang memadati stadion dan menciptakan atmosfer meriah. Meksiko langsung tampil agresif sejak awal pertandingan. Raul Jimenez nyaris membuka keunggulan melalui sundulan, sementara remaja 17 tahun Gilberto Mora hampir mencetak gol spektakuler lewat tembakan dari sudut sempit. Ekuador sempat mengancam melalui serangan balik cepat yang diakhiri John Yeboah, tetapi sepakannya hanya membentur sisi luar tiang gawang. Gol pembuka akhirnya lahir pada menit ke-22. Roberto Alvarado mengirim umpan terobosan kepada Julian Quinones yang sukses melewati kawalan Willian Pacho sebelum melepaskan tembakan keras ke pojok atas gawang. Gol tersebut menjadi gol ketiga Quinones di turnamen ini.
Baca Juga: Australia Siapkan Aturan Baru Buat Deloitte hingga PwC, Opsi Pemisahan Bisnis Menguat Meksiko menggandakan keunggulan pada menit ke-31 setelah Ekuador kehilangan bola di dekat kotak penalti sendiri. Jimenez melakukan kombinasi umpan satu-dua dengan Quinones sebelum melepaskan tendangan pertama yang bersarang di sudut atas gawang. Gol itu menjadi gol internasional ke-47 Jimenez, membuatnya hanya terpaut lima gol dari rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Meksiko yang masih dipegang Javier Hernandez. Unggul dua gol membuat Meksiko semakin percaya diri. Sebaliknya, Ekuador kesulitan mengembangkan permainan meski sempat memperoleh peluang melalui tendangan keras Yeboah yang berhasil digagalkan kiper Raul Rangel. Memasuki babak kedua, pendukung Meksiko terus meneriakkan slogan "Y si sí?" atau "Bagaimana jika memang ini saatnya?", yang menjadi simbol optimisme publik terhadap peluang tim mereka mengakhiri kutukan di fase gugur.
Baca Juga: Kabar Skuad Timnas Inggris Jelang Lawan DR Kongo, Declan Rice Siap Kembali Ekuador lebih banyak menguasai bola setelah jeda, tetapi gagal menciptakan peluang berbahaya. Meksiko justru nyaris menambah keunggulan melalui sundulan kapten Cesar Montes yang masih mampu ditepis kiper Hernan Galindez. Aguirre kemudian menarik keluar Quinones, Jimenez, dan Gilberto Mora yang mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Mora menjadi pemain termuda yang tampil sebagai starter di Piala Dunia sejak legenda Brasil, Pelé. "Sayang Mora mulai kehabisan tenaga, tapi dia masih anak-anak dan bermain sangat berani. Semua pemain bekerja sangat keras," kata Aguirre. Frustrasi Ekuador memuncak pada menit-menit akhir ketika bek Piero Hincapie diganjar kartu merah usai terlibat adu argumen dengan Santiago Gimenez. Meksiko pun menutup pertandingan tanpa kebobolan dan menjaga rekor pertahanan sempurna sepanjang turnamen.
Baca Juga: Boom Properti Australia Mulai Berakhir, Harga Rumah Turun Paling Dalam 3,5 Tahun Seusai peluit panjang berbunyi, para pemain dan puluhan ribu suporter larut dalam perayaan dengan menyanyikan lagu mariachi legendaris "El Rey". Aguirre menegaskan tantangan berikutnya akan menjadi laga terbesar dalam karier kepelatihannya. "Pertandingan hari Minggu nanti adalah laga terpenting dalam sejarah tim nasional Meksiko dan juga dalam karier saya," tutupnya.