Meksiko Diguncang Bom Mobil dan Drone, Kekerasan Kartel Kian Mengkhawatirkan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gelombang serangan bom kembali mengguncang Meksiko. Serangkaian aksi kekerasan menggunakan bom mobil, drone yang dipasangi bahan peledak, hingga ranjau darat menunjukkan eskalasi kekerasan kelompok kartel yang semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan terbaru terjadi pada Minggu (30/8/2026) di negara bagian Zacatecas, Meksiko tengah. Sebuah kendaraan yang diduga digunakan sebagai bom mobil meledak di dekat markas kepolisian di Ojocaliente.

Gubernur Zacatecas David Monreal mengatakan ledakan tersebut menyebabkan sedikitnya 11 orang terluka, termasuk dua polisi. Selain korban luka, ledakan juga mengakibatkan kerusakan cukup parah terhadap sekitar 40 bangunan di sekitar lokasi kejadian.


Kendaraan tersebut diketahui ditinggalkan di luar kantor kepolisian sebelum kemudian meledak.

Sejumlah rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api besar serta warga, termasuk anak-anak, berlari menjauh dari lokasi ledakan. Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi keaslian rekaman tersebut.

Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Australia Melebar Jadi A$27,2 Miliar pada Kuartal II 2026

Monreal mengatakan laporan awal menunjukkan serangan itu diduga dilakukan oleh kelompok kriminal sebagai aksi balasan atas penangkapan salah satu anggotanya pada Sabtu (29/8/2026).

Serangan Bom di Meksiko Meningkat

Ledakan pada Minggu tersebut menjadi salah satu dari hampir selusin insiden serupa yang terjadi di Zacatecas. Menurut Monreal, sebagian serangan dilakukan menggunakan drone berukuran kecil yang membawa bahan peledak maupun ranjau darat.

Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan perubahan dalam pola operasi kelompok kriminal di Meksiko.

Kepala keamanan Zacatecas Arturo Medina mengatakan serangan menggunakan bahan peledak di wilayah tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data pemerintah setempat, hanya terdapat satu insiden serupa yang tercatat sepanjang 2024. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi enam insiden pada 2025.

Sementara itu, sepanjang 2026 hingga akhir Agustus, tercatat sudah 10 serangan menggunakan bahan peledak di Zacatecas.

Medina tidak merinci jumlah korban yang jatuh dari seluruh rangkaian serangan tersebut.

Gubernur Monreal memperingatkan bahwa perkembangan tersebut menunjukkan semakin kompleksnya ancaman kejahatan terorganisasi di Meksiko.

“Kejahatan terorganisasi terus berkembang; saya tidak mengerti mengapa orang-orang belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di negara ini,” kata Monreal.

Baca Juga: Korea Selatan Usulkan Anggaran 2027 Capai US$599 Miliar, Semikonduktor Jadi Prioritas

Kartel Gunakan Teknologi dalam Serangan

Zacatecas bukan satu-satunya wilayah Meksiko yang menghadapi pola kekerasan semacam ini. Negara bagian lain yang juga dilanda kekerasan, termasuk Michoacan, mengalami serangan serupa dengan kelompok kriminal menggunakan bahan peledak untuk menyasar fasilitas keamanan, komunitas masyarakat, maupun aparat penegak hukum.

Sejumlah personel militer juga dilaporkan tewas dalam berbagai insiden tersebut.

Penggunaan drone berukuran kecil yang dimodifikasi untuk membawa bahan peledak menjadi salah satu indikasi perubahan metode yang digunakan kelompok kriminal. Perubahan ini memperluas kemampuan kelompok bersenjata untuk menyerang target dari jarak jauh dan menyasar fasilitas keamanan.

Meningkatnya penggunaan berbagai jenis bahan peledak juga memperlihatkan bahwa konflik antara kelompok kriminal dan aparat keamanan di Meksiko memasuki fase yang semakin kompleks.