Melemah Lagi, Sentimen Middle Income Trap dan The Fed Tekan Rupiah



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah pekan ini. Rabu (4/2/2026), kurs rupiah spot menguat 0,14% menjadi Rp 16.777 per dolar AS.

Berbeda dengan jalur, kurs rupiah Jisdor hari ini menguat tipis Rp 2 atau 0,01% menjadi Rp 16.775 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh laporan Bank Dunia yang menilai Indonesia berisiko sulit keluar dari jebakan negara yang diklaim menengah (middle income trap).


Kondisi ini menekan persepsi pasar. Risiko-risiko tersebut dinilai akan terus membayangi jika reformasi struktural, khususnya di sektor iklim usaha dan investasi, tidak dilakukan secara lebih mendalam.

Baca Juga: TPIA Siapkan Buyback Rp 2 Triliun Tanpa RUPS, Target Serap 250 Juta Saham

“Model pertumbuhan yang membawa Indonesia ke posisi saat ini dinilai tidak lagi mampu untuk mendorong perekonomian menuju tingkat pendapatan tinggi” ujar Ibrahim, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, ke depan Indonesia dituntut untuk mengandalkan mesin pertumbuhan baru yang bersifat lebih endogen, berbasis pada peningkatan produktivitas, serta mampu memperluas pasar hingga ke luar negeri guna mempercepat pembangunan dan inovasi.

Berdasarkan analisis Bank Dunia terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, Ibrahim menambahkan bahwa ekosistem perusahaan besar di Tanah Air dinilai kurang dinamis dan relatif kurang produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berstatus berpendapatan tinggi. 

Kondisi ini juga mempengaruhi minat investor dan aliran modal asing, yang pada akhirnya berdampak pada pergerakan nilai tukar.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. 

Pasar mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral AS tersebut memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Januari, serta penunjukan Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Sentimen Domestik Tekan Rupiah, Pelemahan Berpotensi Berlanjut

“Pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga The Fed pada Juni sekitar 66%, berdasarkan alat CME FedWatch,” jelas Ibrahim.

Ke depan dalam jangka pendek, pasar juga akan mencermati rilis data ekonomi AS, khususnya laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang dijadwalkan rilis pada Rabu malam pukul 20.15 WIB.

Data tersebut berpotensi mempengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.770 - Rp 16.800 per dolar AS pada Kamis (5/2/2026).

Selanjutnya: Likuiditas Perbankan Longgar, Giro Jadi Mesin Utama Pertumbuhan DPK

Menarik Dibaca: 9 Manfaat Konsumsi Buah Ceri secara Rutin untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News