Melihat Derap Pembangunan HPAL dan Dermaga di Sambalagi Morowali



KONTAN.CO.ID - Hembusan angin panas menyergap saat Kontan sampai di kawasan industri Sambalagi. Total perjalanan yang ditempuh oleh tim Jelajah Hilirisasi Kontan melalui perjalanan darat untuk mencapai titik proyek Sambalagi kurang lebih sekitar 4 jam dari kawasan Bahodopi.

Bersama dengan titik proyek Bahodopi, Sambalagi masuk ke dalam proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Kawasan industri Sambalagi ini terletak di Kecamatan Bungku Pesisir, Morowali, Sulawesi Tengah. Selain berada dekat dengan pesisir pantai, Sambalagi berada di dalam kawasan PT International Green Industrial Park (IGIP).


Dalam rancangan ambisiusnya, IGIP mengusung visi untuk membangun kawasan industri bebas karbon (net-zero carbon park) yang dirancang sebagai pusat pengembangan industri berkelanjutan di Indonesia.

Di sini ini pula, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan joint venture antara PT Vale dan mitranya, GEM Co Ltd, perusahaan raksasa daur ulang asal China mengembangkan proyek kawasan industri dan pengolahan nikel berkarbon rendah yaitu fasilitas pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang kini terus dikebut. Namun memang, saat Kontan bertandang, keseluruhan perkembangannya baru mencapai 35%.

Pada paparannya Khristya Pramitha Project Engineer Bahodopi HPAL PT Vale mengemukakan bahwa kawasan industri ini dirancang bisa memproduksi nikel sebanyak 66.000 ton per tahun. Untuk mencapai kapasitas tersebut, pabrik dibagi menjadi tiga jalur produksi atau line yang dikenal sebagai Line A, Line B, dan Line C.

“Masing-masing line memiliki kapasitas sekitar 20.000 ton nikel per tahun. Pembangunan pabrik ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026, sebagai tonggak menuju tahapan commissioning dan operasional berikutnya,” papar Khristya kepada Kontan, pada Minggu (14/6/2026).

Walau secara keseluruhan pengembangan proyek HPAL masih di bawah 50%, tetapi keseluruhan pondasi area utama pengembangan proyek HPAL dan fasilitas post-process sudah mencapai sekitar 80%. Konstruksi berbagai fasilitas pendukung juga berjalan secara paralel.

Berbagai peralatan utama masih dalam tahap pengiriman. Oleh karena itu, pekerjaan saat ini lebih difokuskan pada pembangunan fondasi dan struktur pendukung sehingga ketika peralatan tiba, proses pemasangan dapat segera dilakukan.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa nantinya seluruh pasokan bahan baku proyek ini berasal dari kawasan Vale di Bahodopi. Dalam setahun, sekitar 10,4 juta ton bijih limonite akan diolah untuk menghasilkan sekitar 66.000 ton kandungan nikel dalam bentuk MHP.

Produk MHP tersebut merupakan campuran nikel dan kobalt, yang mana kandungan nikel lebih akan mendominasi sekitar 30% dari total massa produk.

Pada tahap awal, produk MHP masih akan diekspor. Namun pemegang saham utama, GEM, memiliki rencana jangka panjang untuk membangun industri yang lebih hilir, mulai dari prekursor baterai, precursor cathode active material (PCAM), hingga fasilitas daur ulang baterai.

Khristya juga mengungkapkan autoclave yang dipasang, masih didatangkan dari China. Autoclave inilah merupakan tempat yang dilalui bijih limonite yang sebelumnya dikumpulkan di fasilitas ore feeding plant.

Di tempat ini bijih disimpan, dihancurkan, dicuci, dan dipersiapkan sebelum masuk ke proses pemanasan bersuhu bertekanan tinggi.

Sebagai informasi, proses HPAL sendiri bekerja dengan temperatur sekitar 200 derajat celcius dan tekanan tinggi menggunakan asam sulfat. Melalui proses inilah logam nikel dan kobalt dipisahkan dari material pembawanya.

Dalam penggunaan listrik untuk mengoperasikan kegiatan kawasan industri ini, proyek di Sambalagi akan menggunakan fasilitas Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

"Jadi panas sisa dari proses pembakaran sulfur tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik," imbuhnya.

Kapasitas listrik dari sistem ini diperkirakan mencapai 40-45 MW, jumlah yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional BNSI. Vale tidak menutupi bahwa harga yang mahal, membuatnya tidak memilih LNG sebagai pilihan utama.

Pengelola kawasan juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya sekitar 30 MW, dimana panel-panel surya nantinya akan dipasang di area bendungan maupun di atas fasilitas tailing yang telah penuh dan ditutup. Langkah ini dipercaya menjadi bagian dari upaya meningkatkan porsi energi yang lebih ramah lingkungan.

Lalu dari sisi penggunaan air yang melimpah untuk fasilitas HPAL, Vale mengungkapkan bahwa kebutuhan airnya akan dipenuhi dari reservoir yang tersedia dari Sungai Bokulu, sebagai tahap awal. Namun dalam jangka panjang, kawasan industri berencana membangun bendungan dengan kapasitas lebih besar.

Saat berkeliling di kawasan, Vale Indonesia juga mengungkapkan bahwa batu kapur juga menjadi materal penting dalam proses produksi nikel, tidak hanya air saja. Patut disyukuri, bahwa wilayah ini memiliki cadangan batu kapur yang melimpah.

Tak hanya itu, karena kawasan proyek Sambalagi ini bersentuhan dengan pesisir, pembangunan dermaga juga akan dilakukan guna menopang kegiatan logistik.

Sebagai tenant di kawasan industri yang dikelola oleh IGIP, BNSI merencanakan pembangunan delapan dermaga khusus untuk mendukung aktivitas bongkar muat bijih. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan semakin memperkuat peran kawasan Sambalagi sebagai salah satu pusat logistik mineral di Indonesia.

Untuk pengembangan fasilitas tailing, desain yang disusun memanfaatkan kondisi topografi alami di area tersebut. Sebagai informasi, tailing merupakan residu hasil proses High Pressure Acid Leaching (HPAL).

“Saat ini desain fasilitas tersebut masih dalam tahap pengujian tanah dan kajian teknis. Vale Indonesia turut melakukan review terhadap rancangan yang disusun,” ujar Khristya.

Ia mengatakan konstruksi area pertama ditargetkan mulai pada Agustus 2026, sementara sebagian fasilitas ditargetkan mencapai kesiapan awal sesuai tahapan pengembangan pada 2027.

Selain fasilitas produksi, BNSI juga membangun berbagai fasilitas penunjang bagi pekerja, seperti asrama, perumahan, masjid, sport hall, lintasan jogging, hingga area rekreasi.

Saat ini, proyek Sambalagi melibatkan ribuan pekerja yang terdiri dari tenaga kerja lokal dan tenaga kerja asing (TKA). Komposisi tenaga kerja tersebut akan terus disesuaikan dengan kebutuhan proyek pada setiap tahapan pengembangannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News