KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (
INTP) menghadapi tantangan yang tak mudah pada 2026 seiring kenaikan biaya energi dan pelemahan kurs rupiah. Walau begitu, emiten produsen semen tersebut tetap mengintip peluang pertumbuhan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya mengatakan, konflik geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia melambung turut mempengaruhi kelangsungan usaha INTP. Walau harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ritel tidak mengalami perubahan, harga BBM industri yang dikonsumsi INTP justru sudah terkerek naik. "Di kami, harga BBM industri sudah naik dua kali atau kalau digabung sudah sekitar 34%-36%," ujar dia, Rabu (1/4/2026) lalu. Baca Juga: IHSG Melonjak 6,14% Sepekan, Waspada Koreksi Awal Pekan Kondisi ini jelas menyulitkan para produsen semen di Indonesia, termasuk INTP, lantaran biaya produksi menjadi lebih mahal. Maklum saja, sekitar 40%-50% kontribusi biaya produksi semen INTP berasal dari biaya energi. Tekanan bagi INTP bertambah seiring dengan tren pelemahan kurs rupiah yang kini menembus level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Padahal, sebagian biaya pengeluaran INTP ditransaksikan dalam mata uang dolar AS. Lantas, INTP mau tidak mau mesti mengambil langkah mitigasi dengan menyesuaikan harga jual produk semen secara bertahap. Langkah tersebut bukan hanya untuk mengompensasi efek volatilitas harga minyak dan kurs, melainkan juga efek turunannya terhadap kenaikan biaya jasa angkutan kontainer dan kapal. Christian mengaku, pihaknya sudah mulai menaikkan harga semen per sak sekitar 2% sampai 3% untuk area luar Pulau Jawa pada Maret lalu. Meski tidak disebut wilayahnya, bulan April ini kebijakan tersebut juga akan dilakukan INTP dengan besaran serupa yakni 2%-3%. Baca Juga: Prospek Saham Farmasi Tahun 2026 Menjanjikan, Ini Saham Pilihan Analis Kebijakan penyesuaian harga semen ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat dan risiko penurunan pangsa pasar, terutama jika kompetitor INTP tidak ikut mengerek harga produknya. Selain menyesuaikan harga jual, upaya lain INTP untuk menangkal efek kenaikan biaya energi adalah menggencarkan penggunaan bahan bakar alternatif untuk keperluan produksi semen. Salah satu bahan bakar alternatif yang digunakan oleh INTP adalah Refuse Derived Fuel (RDF), di mana bahan bakunya berasal dari limbah padat seperti sampah. INTP menggunakan RDF untuk bahan bakar tungku pabrik semen yang akan mengurangi ketergantungan terhadap batubara. INTP sendiri mengambil bahan baku RDF dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Inisiatif tersebut terbukti berdampak pada komposisi konsumsi bahan bakar INTP. Pada 2020 lalu, konsumsi bahan bakar alternatif INTP masih di level 9,3%, sedangkan pada 2025 porsinya meningkat menjadi 29%. "Kami targetkan konsumsi bahan bakar alternatif untuk pabrik semen perusahaan bisa mencapai 42% pada 2030 mendatang," imbuh Christian. Proyeksi Kinerja
Dengan segala tantangan yang ada, INTP tetap percaya diri dengan prospek kinerjanya pada 2026. Proyeksi kinerja emiten ini mengacu pada pertumbuhan penjualan semen nasional yang diperkirakan oleh Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) sekitar 1% pada 2026. "Kalau pasar naik, biasanya penjualan kami juga akan mengikuti," tutur Christian. Christian menyebut, ada beberapa faktor pendorong kinerja INTP pada tahun ini. Salah satunya adalah program pembangunan tiga juta rumah yang sedikit demi sedikit mulai berjalan, sehingga dapat memicu permintaan semen sebagai bahan konstruksi rumah. Selain itu, beberapa proyek infrastruktur strategis juga diyakini akan memantik pertumbuhan penjualan semen di Indonesia, tak terkecuali INTP. Misalnya, proyek perpanjangan rute MRT yang mana INTP disebut Christian telah didekati oleh pemilik proyek ini untuk menjadi pemasok semen. Proyek lainnya yang masuk radar INTP adalah pembangunan jalan tol yang terus berlanjut baik di Jawa maupun Sumatra serta proyek Giant Sea Wall. Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.104 per Dolar AS Hari Ini, Terseret Eskalasi di Timur Tengah INTP juga berharap adanya realisasi penurunan suku bunga acuan pada 2026 yang bakal mendorong kembali pertumbuhan sektor properti, sehingga secara tidak langsung permintaan semen juga ikut meningkat. Lantaran pasar masih dilanda kelebihan kapasitas (oversupply), maka INTP akan memfokuskan strateginya pada penguatan rantai distribusi semen yang selama ini menjadi keunggulan emiten tersebut. Christian menyebut, berkat akuisisi Pabrik Semen Grobogan di Jawa Tengah, INTP bisa memangkas biaya logistik untuk distribusi semen di provinsi tersebut. Sebelumnya, pasokan semen di Jawa Tengah dikirim INTP dari Pabrik Citeureup yang tentu memakan biaya distribusi cukup besar. INTP juga memiliki pabrik penggilingan semen di Banyuwangi yang bisa memudahkan penyaluran semen di Jawa Timur hingga Bali. Tak hanya itu, INTP juga telah menyewa fasilitas produksi di pabrik semen Bosowa di Maros, Sulawesi yang memudahkan distribusi semen perusahaan tersebut di kawasan Indonesia Timur. Tak ketinggalan, demi menekan biaya logistik, INTP juga memperkuat jaringan terminal bongkar muat semen yang dimilikinya di sejumlah daerah, seperti Kuala Tanjung, Palembang, Pontianak, Samarinda, Lombok, hingga Kupang. "Tersebarnya fasilitas produksi dan terminal ini mampu menjaga profitabilitas perusahaan di tengah tantangan industri semen," terang dia. Sebagai kilas balik, INTP mengalami penurunan pendapatan neto 4,4% year on year (yoy) menjadi Rp 17,73 triliun pada 2025, atau sejalan dengan kinerja penjualan semen domestik yang terkontraksi 2,2% secara tahunan. Volume penjualan semen INTP di pasar domestik juga berkurang 3,9% yoy menjadi 19,39 juta ton pada 2025. Di sisi lain, volume penjualan semen di pasar ekspor meningkat 73,9% yoy menjadi 551.000 ton. INTP mempertahankan pangsa pasar di level 29,1% pada 2025. Walau demikian, INTP mampu meraih kenaikan laba bersih tahun berjalan 12% yoy menjadi Rp 2,25 triliun pada akhir tahun lalu. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News